Dibayangi Defisit 188 Ribu Ton, Kaltim Pacu Swasembada Beras
SAMARINDA – Ambisi Kalimantan Timur mewujudkan swasembada beras pada akhir 2026 masih menghadapi pekerjaan rumah yang tidak ringan. Hingga saat ini, provinsi tersebut masih mengalami defisit beras sekitar 188.109 ton, sehingga pemerintah daerah harus berpacu meningkatkan produksi melalui perluasan sawah, optimalisasi lahan, hingga pemanfaatan bekas tambang.
Persoalan itu menjadi fokus pembahasan dalam Rapat Koordinasi Swasembada Pangan yang dipimpin Wakil Gubernur Kaltim Seno Aji di Kantor Gubernur Kaltim, Senin (6/7).
Data Dinas Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (DPTPH) Kaltim menunjukkan kebutuhan beras masyarakat pada 2025 mencapai 345.664,54 ton. Sementara produksi daerah baru sekitar 157.554,69 ton. Artinya, Kaltim masih bergantung pada pasokan beras dari luar daerah untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Meski demikian, Seno Aji tetap optimistis target swasembada pada akhir 2026 bisa direalisasikan. Menurutnya, peningkatan produksi mulai terlihat dari hasil evaluasi tiga kali rapat koordinasi yang telah digelar bersama pemerintah kabupaten dan kota.
“Kita sudah tiga kali menggelar rakor dan terlihat ada peningkatan produksi pangan. Saat ini baru sekitar 60 persen, dan kita menargetkan pada akhir 2026 bisa mencapai 100 persen. Tentu ini membutuhkan kerja keras dan kolaborasi dengan Kementerian Pertanian,” katanya.
Ia meminta seluruh pemerintah kabupaten dan kota segera memperbarui data potensi lahan pertanian yang dimiliki. Data tersebut akan menjadi dasar penyusunan rencana kerja yang akan dibahas bersama Kementerian Pertanian pada akhir Juli mendatang.
“Akhir Juli Menteri Pertanian sudah menunggu rencana kerja kita sampai akhir 2026. Karena itu seluruh daerah harus bergerak cepat,” ujarnya.
Salah satu strategi yang ditempuh adalah memperluas areal tanam melalui program cetak sawah dan optimalisasi lahan. Saat ini luas baku sawah yang dimanfaatkan sekitar 31 ribu hektare dari total potensi sekitar 46 ribu hektare.
Tahun ini pemerintah menggarap program cetak sawah seluas sekitar 2.300 hektare. Luasan itu akan ditambah sekitar 12.800 hektare sehingga total sawah baru yang ditargetkan hingga akhir 2026 mencapai sekitar 15 ribu hektare.
Berau, Kutai Timur, Kutai Barat, dan Paser menjadi daerah yang diprioritaskan untuk pengembangan sawah baru karena dinilai memiliki potensi lahan yang cukup besar.
Selain membuka sawah baru, Pemprov Kaltim juga mulai menyiapkan pemanfaatan lahan bekas tambang sebagai kawasan pertanian produktif. Menurut Seno, sejumlah lokasi telah menunjukkan hasil yang cukup menjanjikan dan berpotensi direplikasi di wilayah lain.
“Kita akan memanfaatkan lahan bekas tambang sebagai contoh. Kalau berhasil, model ini bisa diterapkan di lokasi-lokasi lain sehingga lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat dimanfaatkan menjadi sawah,” katanya.
Kepala DPTPH Kaltim Fahmi menambahkan, peningkatan produksi tidak hanya bergantung pada perluasan sawah, tetapi juga optimalisasi lahan yang sudah ada melalui peningkatan indeks pertanaman, perbaikan jaringan irigasi, serta penguatan sarana dan prasarana pertanian.
Menurutnya, jika seluruh program berjalan sesuai target, produksi padi Kaltim akan meningkat secara bertahap sehingga ketergantungan terhadap pasokan beras dari luar daerah dapat terus dikurangi.
“Target kita jelas, produksi terus meningkat sehingga kebutuhan beras daerah dapat dipenuhi sendiri. Kalau semua program berjalan sesuai rencana, swasembada beras bisa kita capai,” ujar Fahmi.
Bila diinginkan, saya juga bisa membuat versi yang lebih tajam dengan gaya media nasional, sehingga lead terasa lebih kuat dan tidak seperti rilis pemerintah.