Ubah Limbah Mahakam Jadi Cuan, Kelompok Tani Ini Kantongi Rp144 Juta dari Bisnis Biomassa!
Samarinda, nusaetamnews.com : Siapa bilang sampah kayu di sungai nggak ada harganya? Kelompok Tani Hutan (KTH) Kutai Lama Lestari di Kalimantan Timur baru saja membuktikan kalau kreativitas bisa diubah jadi pundi-pundi rupiah. Nggak tanggung-tanggung, mereka sukses meraup pendapatan hingga Rp144 juta dari hasil pengelolaan biomassa limbah kayu sepanjang Januari hingga Mei 2026!
Keberhasilan ini dapet apresiasi penuh dari Kepala Balai Penyuluhan dan Pengembangan SDM (P2SDM) Wilayah V Kementerian Kehutanan, Elpa Rifadi. Bagi Elpa, pencapaian ini adalah bukti nyata kalau produk hilirisasi (olahan) punya nilai jual yang jauh lebih seksi ketimbang menjual bahan mentah.
“Nilai transaksi dari usaha biomassa ini membuktikan bahwa produk hilirisasi bernilai ekonomi lebih tinggi dibandingkan penjualan primer,” kata Elpa di Samarinda, Selasa.
Formula Win-Win: Sungai Bersih, Kantong Anggota Berisi
Ketua KTH Kutai Lama Lestari, Junaidi, menceritakan kalau ide bisnis ramah lingkungan ini sudah dimulai sejak tahun 2025 lalu sebagai solusi untuk mendongkrak ekonomi warga lokal.
Cara mainnya simpel tapi berdampak besar:
- Bahan Baku: Memanfaatkan limbah kayu yang hanyut dan menumpuk di pinggiran Sungai Mahakam.
- Produk Olahan: Limbah tersebut disulap menjadi produk bernilai tinggi seperti arang, pupuk cair, dan insektisida nabati.
Selain mendatangkan cuan, aksi pungut limbah kayu ini juga jadi aksi penyelamat lingkungan. Pasalnya, tumpukan kayu hanyut di Sungai Mahakam sering kali merusak tiang-tiang rumah panggung warga yang tinggal di kawasan pesisir.
Bicara soal pasar, arang biomassa buatan KTH Kutai Lama Lestari ini laris manis di pasar lokal untuk skala rumah tangga. Arang ini jadi hot item sebagai energi alternatif di tengah momen langka dan mahalnya gas elpiji.
Anggota Kantongi Rp4 Juta Sebulan, tapi Masih Terganjal Logistik
Pendamping kelompok dari KPHP Delta Mahakam, Anindita Kesumadewi, membeberkan kalau bisnis ini berdampak langsung ke dompet para anggotanya.
“Secara individu, setiap anggota kelompok yang rutin memproduksi biomassa ini bisa mengantongi penghasilan hingga empat juta rupiah per bulan,” ungkap Anindita.
Selain sibuk mengolah arang, kelompok yang beranggotakan sekitar 20 orang ini juga lagi menggarap sistem wanatani (agroforestry) alias menanam pohon buah-buahan di lahan seluas 25 hektare. Mantap banget, kan?
Meski potensinya menjanjikan, Junaidi mengakui kalau langkah mereka belum bisa sprint penuh. Tantangan utamanya adalah minimnya fasilitas armada angkutan bermotor untuk mengangkut bahan baku dan hasil produksi.
Untuk menyiasati bottleneck logistik ini, KTH Kutai Lama Lestari sekarang lagi gencar menjajaki skema kemitraan dengan berbagai pihak demi mendongkrak kapasitas produksi mereka. (ant/one)