Subscribe

Gandeng Juru Pelihara, BPK Kaltim Amankan Jejak Akulturasi Islam di Cagar Budaya Paser

2 minutes read

Samarinda, nusaetaamnews.com : Balai Pelestarian Kebudayaan (BPK) Kalimantan Timur (Kaltim) gak mau main-main dalam menjaga memori kolektif bangsa. Demi mengamankan jejak sejarah akulturasi keislaman di Kabupaten Paser, BPK Kaltim resmi menerjunkan tim juru pelihara khusus di tiga lokasi cagar budaya andalan daerah tersebut.

Langkah ini diambil agar nilai historis peninggalan masa lalu gak luntur digerus zaman, sekaligus memberikan edukasi yang valid bagi para pelancong.

“Kami menempatkan juru pelihara di tiga cagar budaya di Paser agar pengunjung memperoleh pendampingan langsung untuk mendapatkan informasi warisan tersebut,” ujar Kepala BPK Kaltim, Lestari, di Samarinda, Sabtu (13/6).

Uniknya Corak Islam Paser: Hasil “Blender” Banyak Budaya

Lestari memaparkan, pesatnya penyebaran Islam di bumi Paser di masa lampau melahirkan corak keislaman yang unik banget. Karakteristik ini muncul dari hasil akulturasi yang harmonis antara budaya Bugis, Banjar, Kutai, Tionghoa, hingga Arab.

Jejak peradaban yang super kaya itu kini masih berdiri kokoh dan bisa dinikmati langsung di tiga titik utama yang dijaga ketat oleh masing-masing 2 hingga 3 juru pelihara:

  • Museum Sadurangas: Bangunan yang dulunya merupakan Istana Kesultanan Paser yang ikonik.
  • Masjid Besar Nurul Ibadah: Rumah ibadah bersejarah yang menjadi saksi bisu pesatnya syiar peradaban Islam di Paser.
  • Kompleks Makam Raja-Raja Kesultanan Paser: Area sakral di Desa Pasir Balengkong yang hingga kini sangat dihormati masyarakat setempat.

“Para penjaga warisan ini bertugas aktif menyajikan narasi sejarah secara utuh dan mengawal kondisi fisik cagar budaya. Mereka juga siap membantu wisatawan yang ingin mengambil foto dokumentasi selama eksplorasi sejarah,” tambah Lestari.

Pengunjung Boleh Ikut “Review” Kerja Petugas

Menariknya, BPK Kaltim menegaskan kalau urusan merawat sejarah itu bukan cuma tugas sepihak dari pemerintah. Lestari justru menantang para pengunjung untuk ikut memberikan penilaian kritis dan masukan langsung terhadap kualitas pelayanan para juru pelihara di lapangan.

Hasil evaluasi partisipatif dari masyarakat ini nantinya bakal dipakai sebagai bahan evaluasi total demi menaikkan level layanan kepurbakalaan ke depan. “Keterlibatan publik menjadi kunci paling penting untuk bersama-sama menjaga, merawat, dan memastikan warisan budaya tersebut abadi melintasi zaman,” pungkasnya. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *