Rumah Bagi 913 Penyu, 26 Titik Habitat di Kepulauan Berau Masuk Kategori Zona Sehat
Samarinda, nusaetamnewscom : Kawasan Kepulauan Berau, Kalimantan Timur, kembali membuktikan posisinya sebagai salah satu episentrum konservasi laut paling vital di Asia Tenggara. Berdasarkan survei komprehensif terbaru, sebanyak 26 dari 27 lokasi pemantauan habitat penyu hijau (Chelonia mydas) di wilayah tersebut resmi dinyatakan masuk dalam kategori “hijau” alias sangat sehat.
Riset kolaboratif ini diinisiasi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Kaltim, Yayasan Konservasi Alam Nusantara (YKAN), Balai Pengelolaan Sumber Daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak KKP RI, serta disokong oleh program Solutions for Marine and Coastal Resilience in the Coral Triangle.
“Berau adalah bagian tak terpisahkan dari bentang laut Sulu-Sulawesi yang masuk dalam kawasan Segitiga Terumbu Karang dunia. Ini aset alam global yang tak ternilai,” tulis tim peneliti dalam laporan berkala tersebut, Senin (8/6).
Pantauan Udara: 913 Penyu Teridentifikasi via Drone
Dalam melancarkan aksi monitoring ini, tim gabungan memanfaatkan teknologi mutakhir berupa pesawat nirawak (drone) berspesifikasi tinggi. Penggunaan teknologi ini sukses memetakan 12 lokasi habitat krusial di Kawasan Konservasi Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil Kepulauan Derawan dan Perairan Sekitarnya (KKP3K – KDPS).
Akurasi Data Drone: Kamera udara yang digunakan memiliki resolusi spasial tinggi antara 1,5 hingga 5 sentimeter. Tingkat kejelasan ini memudahkan peneliti membedakan secara presisi antara tubuh penyu dengan objek lain seperti batu atau terumbu karang.
Dari hasil pemetaan udara tersebut, sedikitnya 913 ekor penyu berhasil teridentifikasi sedang beraktivitas dan berkembang biak dengan aman di kawasan konservasi tersebut.
Rapor Kategori Hijau di Habitat Penyu Berau
Guna mempertahankan status 26 lokasi “hijau” tersebut, tim peneliti menetapkan sejumlah indikator alamiah yang wajib dijaga, antara lain:
- Karakteristik Pasir: Tekstur pasir ideal untuk menutup dan menjaga suhu telur.
- Geografis Pantai: Kemiringan pantai yang pas (tidak terlalu curam maupun terlalu landai).
- Aspek Vegetasi: Tumbuhnya tanaman pantai alami sebagai peneduh.
- Faktor Eksternal: Minimnya gangguan atau intervensi dari aktivitas manusia.
Kesadaran Hukum Nelayan Lokal Sentuh 98 Persen
Selain faktor teknologi dan alam, kesuksesan konservasi di Berau disokong kuat oleh pergeseran paradigma masyarakat lokal. Hasil wawancara terhadap 75 nelayan di kawasan Balikukup, Derawan, Maratua, Teluk Sulaiman, hingga Biduk-Biduk menunjukkan angka psikologis yang memuaskan.
Sebanyak 98 persen nelayan menyatakan paham bahwa berburu penyu dan mengambil telurnya adalah tindakan ilegal yang melanggar hukum. Mayoritas responden juga bersaksi populasi penyu hijau dan penyu sisik terus meningkat dalam beberapa tahun terakhir berkat pengetatan aturan.
Konservasi Berbasis Edukasi Jangka Panjang
Kepala DKP Provinsi Kaltim, Irhan Hukmaidy, menegaskan bahwa penegakan hukum di lapangan harus berjalan beriringan dengan investasi karakter pada generasi muda di pesisir.
“Melindungi penyu tidak hanya dengan membuat regulasi atau menempatkan petugas. Jauh lebih penting menanamkan pemahaman ke generasi muda tentang peran penting hewan ini bagi keseimbangan laut,” tutur Irhan.
Senada, Manajer Senior Perlindungan Laut YKAN, Yusuf Fajariyanto, menggarisbawahi bahwa masa depan Berau sebagai jalur migrasi spesies laut dunia berada di tangan masyarakat lokal.
“Konservasi tidak bisa jalan sendiri. Kolaborasi sains lewat teknologi drone dan peran aktif warga pesisir adalah dua pilar utama yang membuat Berau tetap menjadi rumah aman bagi penyu dunia,” pungkas Yusuf. (ant/one)