Subscribe

Gratispol Cetak Dokter Spesialis, Pemprov Kaltim Akui Rumah Sakit Mulai Tertekan

2 minutes read

BALIKPAPAN – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kalimantan Timur (Kaltim) tak lagi sekadar berbicara soal peningkatan layanan kesehatan. Lewat Program Gratispol Pendidikan, Pemprov kini mendorong langkah lebih konkret yakni mencetak dokter spesialis dan subspesialis untuk menutup celah serius di layanan medis daerah.

Namun di balik ambisi itu, ada pengakuan yang tak kalah penting. Sejumlah rumah sakit di Kaltim mulai menghadapi tekanan berat, bahkan kesulitan operasional.

Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim Sri Wahyuni menegaskan program afirmasi pendidikan bagi dokter merupakan strategi jangka panjang untuk mengatasi krisis tenaga medis profesional yang selama ini menjadi persoalan laten.

“Kita buka ruang seluas-luasnya. Tidak ada batasan usia. Yang penting ada komitmen untuk kembali dan mengabdi di daerah,” ujarnya usai pelantikan pengurus Persi dan Makersi Kaltim di Balikpapan, Sabtu (2/5/2026).

Program ini membuka akses pendidikan spesialis melalui kerja sama dengan sejumlah perguruan tinggi ternama seperti UGM, UI, dan Unair. Bahkan bagi yang belum terakomodasi kerja sama, dokter ASN tetap bisa menempuh jalur tugas belajar melalui Badan Kepegawaian Daerah.

Langkah ini dinilai krusial. Sebab, kekurangan dokter spesialis selama ini berdampak langsung pada kualitas layanan kesehatan. Mulai dari antrean panjang pasien hingga rujukan keluar daerah yang membebani masyarakat.
Namun Sri tak menutup mata terhadap persoalan di hilir. Ia mengungkapkan kondisi rumah sakit di Kaltim saat ini tidak sedang baik-baik saja.

“Tekanan ekonomi, keterbatasan tenaga medis, hingga beban operasional semakin kompleks. Bahkan sudah ada rumah sakit yang mulai kesulitan bertahan,” tegasnya.

Pernyataan ini menjadi sinyal kuat bahwa persoalan kesehatan di Kaltim tidak hanya soal SDM, tetapi juga menyangkut daya tahan sistem pelayanan itu sendiri.

Di sisi lain, kepengurusan baru Persatuan Rumah Sakit Indonesia (Persi) Kaltim periode 2026–2030 diharapkan mampu menjawab tantangan tersebut. Ketua Persi Kaltim Indah Puspitasari menyebut pihaknya akan fokus pada peningkatan mutu layanan dan keselamatan pasien.

Dengan 65 rumah sakit anggota, baik milik pemerintah maupun swasta—Persi Kaltim dituntut tidak hanya menjaga standar layanan, tetapi juga memperkuat manajemen dan kapasitas SDM di tengah tekanan yang ada.

“Kami ingin memastikan pelayanan tetap berkualitas, sekaligus memperkuat tata kelola rumah sakit agar lebih adaptif,” ujarnya.

Momentum ini memperlihatkan dua sisi realitas kesehatan di Kaltim. Di satu sisi, pemerintah agresif menyiapkan dokter spesialis masa depan, di sisi lain, rumah sakit sebagai garda terdepan justru sedang berjuang menjaga keberlangsungan layanan hari ini.

Jika tidak ditangani secara paralel, bukan tidak mungkin upaya mencetak tenaga medis unggul justru berhadapan dengan sistem layanan yang rapuh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *