Lawan Kepunahan! Disdikbud Kaltim “Go Digital” dan Masukkan Bahasa Daerah ke Kurikulum Sekolah
Samarinda, nusaetamnews.com : Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Provinsi Kalimantan Timur resmi mengambil langkah agresif untuk membentengi kearifan lokal dari ancaman kepunahan. Strateginya jelas: digitalisasi sejarah dan modernisasi pelestarian budaya agar tetap relevan bagi Gen Z dan milenial.
Sekretaris Disdikbud Kaltim, Rahmat Ramadhan, menegaskan bahwa pelestarian budaya di era sekarang tidak boleh sekadar menjaga tradisi lama, tapi harus berani beradaptasi dengan teknologi.
Digitalisasi & Restorasi Ketat
Langkah konkret perlindungan warisan leluhur kini diperkuat melalui penetapan status Cagar Budaya Peringkat Nasional, salah satunya Masjid Jami’ Adji Amir Hasanoeddin di Tenggarong. Selain itu, restorasi kawasan Museum Sadurengas Paser dilakukan dengan standar tinggi.
“Restorasi diawasi ketat oleh Balai Pelestarian Kebudayaan. Material renovasi wajib sama persis dengan spesifikasi bangunan asli. Kita tidak ingin nilai sejarahnya luntur,” tegas Rahmat di Samarinda, Minggu (19/4/2026).
Kurikulum Bahasa Daerah: Benteng Identitas
Guna meredam dominasi budaya asing, Disdikbud Kaltim mewajibkan pengajaran bahasa daerah ke dalam kurikulum muatan lokal di seluruh sekolah. Bahasa Dayak, Paser, Berau, dan Kutai kini menjadi pelajaran wajib bagi siswa.
- Benteng Moral: Bahasa daerah diposisikan sebagai akar identitas bangsa.
- Penyelamatan Naskah Kuno: Sinergi dengan Dinas Perpustakaan untuk alih media (scan digital) naskah sejarah agar tidak rusak dimakan usia.
- Konten Kekinian: Seluruh catatan sejarah dikemas ulang dalam format digital berbasis website dan media sosial yang lebih relatable.
Seni Tradisional Masuk Panggung Nasional
Geliat seni lokal kembali “hidup” lewat Festival Kudungga dan pertunjukan rutin di Taman Budaya Kaltim. Bahkan, produk kerajinan tangan pelajar SMK dan tarian tradisional siswa Sekolah Luar Biasa (SLB) didorong hingga ke panggung Taman Mini Indonesia Indah (TMII) Jakarta untuk meningkatkan value kearifan lokal.
“Seluruh upaya ini kami integrasikan langsung dengan pendidikan karakter. Tujuannya jelas, agar generasi muda Kaltim tetap menjunjung tinggi adab dan etika Pancasila di tengah gempuran globalisasi,” tutup Rahmat. (ant/one)