Kratom “Go Global”: Kukar Resmi Ekspor Daun Endemik, Targetkan Ekonomi Bantaran Sungai
TENGGARONG – Pemerintah Kabupaten Kutai Kartanegara (Pemkab Kukar) tancap gas mendongkrak ekonomi kerakyatan melalui ekspor daun kratom (mitragyna speciosa). Tumbuhan endemik Kalimantan yang banyak tumbuh liar di bantaran sungai ini kini naik kelas, dari sekadar jualan mentah menjadi produk olahan pabrik berkualitas ekspor.
Wakil Bupati Kukar, Rendi Solihin, menegaskan bahwa kepastian hukum ekspor kratom kini sudah clear berkat terbitnya Permendag Nomor 21 Tahun 2024. Aturan ini resmi melegalkan tata niaga ekspor kratom Indonesia sejak akhir Agustus 2024.
Pabrik Berdiri, Investor Masuk
Tak lagi sekadar menjual daun kering secara mandiri, Pemkab Kukar berhasil menggaet investor untuk mendirikan pabrik pengolahan di Desa Bangun Rejo, Kecamatan Tenggarong Seberang. Pabrik milik PT DJB Botanicals Indonesia ini akan menjadi hub utama yang menyerap bahan baku langsung dari warga.
“Potensi terbesar kita ada di hulu Sungai Mahakam, mulai dari Kota Bangun, Muara Wis, hingga Kembang Janggut. Ini adalah nilai tambah ekonomi nyata bagi warga yang tinggal di riparian sungai,” ujar Rendi saat meninjau pabrik, Senin (30/3).
Regulasi Aman, Petani Tenang
Sempat berada di zona abu-abu, Rendi memastikan bahwa kini petani kratom bisa bernapas lega. Pemerintah daerah bahkan sedang menyiapkan langkah proteksi tambahan bagi para petani.
- Payung Hukum: Permendag No. 21/2024 dan Permendag No. 23/2023.
- Langkah Pemkab: Menyusun Peraturan Daerah (Perda) bersama DPRD Kukar untuk perlindungan petani.
- Manfaat Produk: Ekspor ditujukan untuk kebutuhan medis, terutama sebagai obat gangguan cemas dan depresi.
PR Besar: Jaga Kualitas!
Meski keran ekspor sudah dibuka lebar, Rendi memberikan catatan keras soal kualitas. Ia berkaca pada komoditas rumput laut yang sering terkendala mutu saat masuk pasar global.
“Alhamdulillah sekarang aman. Tapi petani harus tetap semangat menjaga kualitas budi daya. Jangan sampai masalah mutu menghambat ekspor kita di tengah jalan,” tegasnya.
Kratom yang dulu hanya dianggap tanaman pinggiran, kini diproyeksikan menjadi mesin ekonomi baru bagi Kutai Kartanegara di tahun 2026 ini. (ant/0ne)