Kejar Tayang! Proyek Gas Manpatu PHM Masuk Fase Krusial, Target Operasi Kuartal I 2027
Balikpapan, nusaetamnews.com : PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) tancap gas mengembangkan lapangan gas lepas pantai Manpatu di Selat Makassar. Proyek ambisius yang terletak 35 kilometer dari pesisir Balikpapan ini baru saja melewati milestone penting: pemindahan kerangka anjungan (load out jacket) dari galangan fabrikasi di Tanjung Pinang, Kepulauan Riau, pada 26 Maret 2026.
General Manager PHM, Setyo Sapto Edi, mengonfirmasi bahwa proyek ini berjalan dalam skema fast track (jalur cepat) untuk memperkuat ketahanan energi nasional.
Timeline Agresif: Juli 2026 Instalasi Rampung
Setelah pengiriman kerangka (sail away), tahap berikutnya adalah pemasangan bagian atas anjungan (topside) yang dijadwalkan pada pertengahan April 2026.
- Target Instalasi: Seluruh platform ditargetkan tegak berdiri pada awal Kuartal III 2026 (Juli – Agustus).
- Skala Proyek: Konstruksi topside mencapai bobot 2.400 ton.
- Infra Tambahan: Pemasangan pipa bawah laut sepanjang 2,5 kilometer dan pengeboran 11 sumur pengembangan.
“Fasilitas ini didesain mampu menangani aliran gas hingga 80 MMSCFD (juta metrik standar kaki kubik per hari). Ini langkah strategis untuk menjaga produksi migas di wilayah Mahakam,” ujar Setyo di Balikpapan, Senin (30/3).
Pecahkan Rekor Komponen Lokal (TKDN)
Proyek Manpatu menjadi catatan sejarah baru bagi blok Mahakam. Untuk pertama kalinya, proyek di area ini menggunakan pipa produksi buatan dalam negeri secara penuh (100%), mulai dari jalur pipa bawah laut hingga sambungan di anjungan.
Selain aspek teknis, PHM juga mencatatkan performa safety yang impresif dengan raihan lebih dari 2 juta jam kerja tanpa insiden (Lost Time Incident) hingga Maret 2026.
Dari Penemuan 2022 ke Onstream 2027
Sejak penemuan gas pada tahun 2022, PHM terus memacu pengerjaan fasilitas ini agar bisa mulai berproduksi (onstream) pada Kuartal I 2027. Sebagai informasi, PHM (anak usaha Pertamina Hulu Indonesia) kini sepenuhnya mengelola wilayah kerja Mahakam, yang sebelumnya dikelola oleh perusahaan asal Prancis, Total E&P Indonesie, hingga akhir 2017. (ant/one)