Subscribe

Menjemput Maghrib di Kota Tepian: Potret Ngabuburit Warga Samarinda

3 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Matahari mulai condong ke arah barat, membiarkan semburat jingga memantul di permukaan Sungai Mahakam yang tenang. Di jam-jam kritis menjelang berbuka, Samarinda seolah berganti kulit. Kota yang siangnya sibuk dengan hiruk-pikuk tambang dan niaga, kini melambat, bersiap merayakan tradisi tahunan yang tak pernah lekang oleh waktu: ngabuburit.

Bagi warga Samarinda, ngabuburit bukan sekadar menunggu waktu makan. Ini adalah ritual sosial, ajang silaturahmi, sekaligus petualangan kuliner singkat.

Magnet Tepian Mahakam

Tak lengkap membicarakan Samarinda tanpa menyebut tepian sungainya. Kawasan Tepian Mahakam tetap menjadi primadona. Di sepanjang jalur Jalan Gajah Mada, ratusan warga tampak duduk santai di kursi-kursi lipat yang dibawa sendiri atau disediakan pedagang.

Sambil menikmati angin sepoi-sepoi, mereka menonton kapal ponton batu bara yang melintas perlahan—pemandangan ikonik yang hanya ada di sini. “Paling enak di sini karena gratis anginnya, mas. Mata juga segar lihat sungai, tahu-tahu sudah mau azan saja,” ujar Ardi, seorang mahasiswa yang asyik bercengkerama bersama teman-temannya.

Nostalgia dan Estetika di Citra Niaga

Bergeser sedikit ke jantung kota, Citra Niaga menawarkan suasana berbeda. Setelah direvitalisasi, kawasan yang pernah meraih Aga Khan Award ini menjadi titik kumpul favorit generasi Z dan milenial.

Di sini, ngabuburit terasa lebih “estetik”. Deretan kafe modern yang bersanding dengan bangunan kayu tradisional menciptakan latar belakang foto yang ciamik. Warga biasanya memesan kopi atau camilan ringan untuk dinikmati tepat saat bedug berbunyi, sambil sesekali berburu suvenir atau sekadar menikmati suasana “pedestrian” yang kini lebih tertata.

Wisata Religi di Islamic Center

Bagi mereka yang mencari ketenangan spiritual, Masjid Baitul Hikmah (Islamic Center) adalah tujuannya. Menara setinggi 99 meter yang menjulang ke langit Samarinda menjadi magnet bagi warga dari berbagai sudut kota.

Banyak keluarga yang datang membawa anak-anak untuk bermain di halaman masjid yang luas. Menjelang berbuka, suasana di sini terasa lebih syahdu. Tak jarang, pengurus masjid membagikan takjil gratis, menciptakan momen kebersamaan yang hangat di bawah kubah emas yang megah.

“Perang” Takjil di GOR Segiri

Namun, jika bicara soal adrenalin, Pasar Ramadan di kawasan GOR Segiri adalah pusatnya. Di sinilah “perang takjil” sesungguhnya terjadi. Bau harum Amparan Tatak, manisnya Bingka, hingga gurihnya Pentol Kuah menyeruak di udara.

Warga rela berdesak-desakan demi mendapatkan kudapan favorit. Antrean panjang di lapak kue-kue tradisional khas Banjar dan Kutai menunjukkan bahwa di balik modernitas Samarinda, lidah warganya tetap merindukan cita rasa lokal

Ngabuburit di Samarinda adalah tentang merayakan jeda. Di tengah cuaca kota yang sering kali terik, momen-momen sore hari ini menjadi pendingin suasana. Baik itu di pinggir sungai, di pusat belanja, atau di pelataran masjid, warga Samarinda punya cara sendiri untuk menghargai waktu tunggu mereka.

Satu hal yang pasti: saat azan Maghrib berkumandang dari pengeras suara masjid-masjid di sepanjang sungai, kota ini akan serentak menarik napas lega, menikmati kemenangan kecil hari itu dalam segelas es kelapa atau sepotong kue bingka yang manis. (one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *