Subscribe

Dana Desa Kaltim “Terjun Bebas” 67%, BI Ajak Desa Putar Otak Gali Cuan Lokal

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Kabar kurang sedap datang buat pembangunan desa di Kalimantan Timur. Pagu Dana Desa (DD) tahun 2026 di Bumi Etika mengalami kontraksi tajam alias anjlok hingga 67,18%. Angka yang semula berada di level Rp810,05 miliar pada 2025, kini merosot menjadi hanya Rp265,84 miliar.

Penurunan drastis ini menjadi tantangan berat bagi 841 desa di tujuh kabupaten se-Kaltim yang selama ini mengandalkan DD untuk pembangunan fisik hingga pemberdayaan warga.

Jangan Cuma Bergantung Transferan

Menanggapi situasi ini, Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Kaltim, Jajang Himawan, meminta perangkat desa tidak panik berlebihan namun tetap harus gerak cepat (gercep). Menurutnya, fenomena penurunan ini terjadi secara nasional, bukan hanya di Kaltim.

“Memang sulit, tapi semua stakeholder di desa harus dinamis dan kreatif. Jangan cuma bergantung pada dana transfer. Gali potensi lokal agar bisa mandiri secara ekonomi,” tegas Jajang di Samarinda, Sabtu (28/2).

Senada dengan Jajang, Deputi BI Kaltim Bayu Adi Hardiyanto menyebut banyak celah ekonomi yang bisa digarap, mulai dari sektor pertanian modern hingga pariwisata berbasis komunitas. BI Kaltim sendiri mengeklaim sudah mulai melakukan pembinaan pada kelompok masyarakat yang punya inisiatif kreatif.

Aturan Baru: 8 Fokus Dana Desa 2026

Di sisi lain, Kementerian Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Kemendes PDT) sudah merilis “panduan main” penggunaan dana yang terbatas ini melalui Permendes Nomor 16/2025.

Direktur Fasilitasi Pemanfaatan Dana Desa, Friendy Parulian Sihotang, menjelaskan ada delapan fokus utama yang wajib jadi prioritas desa tahun ini, di antaranya:

  1. BLT Dana Desa: Penanganan kemiskinan ekstrem. Kabar baiknya, besaran BLT kini nggak dipatok persentase kaku dari pagu, tapi menyesuaikan kemampuan desa (maksimal Rp300 ribu/bulan per keluarga).
  2. Ketahanan Pangan & Energi: Pengembangan lumbung pangan desa.
  3. Koperasi Merah Putih: Implementasi penguatan ekonomi kolektif.
  4. Isu Lingkungan: Penguatan desa berketahanan iklim dan tangguh bencana.
  5. Kesehatan: Promosi dan penyediaan layanan dasar.

The Bottom Line: Dengan anggaran yang “menipis”, tahun 2026 bakal jadi tahun pembuktian buat para Kepala Desa di Kaltim. Pilihannya cuma dua: pasrah dengan keadaan atau pivot mencari sumber pendapatan asli desa (PADes) yang baru. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *