Wujudkan Swasembada, Kementan Kerahkan 70 ‘Brigade Pangan’ Milenial di Kaltim
SAMARINDA , nusaetamnews.com: Sektor pertanian di Kalimantan Timur kini punya wajah baru yang lebih fresh. Kementerian Pertanian (Kementan) resmi mengoptimalkan 70 Brigade Pangan di Benua Etam sebagai ujung tombak untuk mengejar target swasembada pangan daerah.
Kepala Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) Kementan Kaltim, Ahmad Hamdan, mengungkapkan bahwa misi besar ini bertumpu pada lima kabupaten “raksasa” pertanian: Paser, Penajam Paser Utara (PPU), Kutai Kartanegara, Berau, dan Kutai Timur.
“Lima wilayah ini punya potensi lahan produktif yang luar biasa besar untuk mendukung ketahanan pangan kita,” ujar Hamdan di Samarinda, Rabu (7/1).
Apa Itu Brigade Pangan?
Bukan sekadar kelompok tani biasa, Brigade Pangan dirancang sebagai pusat operasional pertanian modern di tingkat desa. Fungsinya sangat komprehensif, mulai dari:
- Hulu: Mendampingi pengolahan lahan dan penyediaan sarana produksi (benih, pupuk, dll).
- Hilir: Membantu pemasaran hasil panen agar petani tidak lagi dipermainkan harga pasar.
Menariknya, setiap unit brigade diawaki oleh 15 petani milenial. Langkah ini menjadi strategi Kementan untuk mempercepat regenerasi petani sekaligus memastikan teknologi pertanian terkini benar-benar diterapkan di lapangan.
“Satu tim Brigade Pangan ditargetkan mampu mengelola area seluas 150 hingga 200 hektare dengan manajemen profesional yang berorientasi pada hasil maksimal,” tambah Hamdan.
Persenjataan Modern & Teknologi Canggih
Untuk mendukung kerja para “tentara pangan” muda ini, pemerintah tidak main-main dalam memberikan dukungan alat mesin pertanian (alsintan) modern. Para brigade ini dibekali dengan:
- Traktor roda empat dan traktor tangan untuk olah lahan cepat.
- Combine Harvester (mesin panen kombinasi) untuk efisiensi waktu panen.
- Fasilitas penggilingan padi modern agar kualitas beras yang dihasilkan lebih premium dan punya nilai jual tinggi.
Hasil Nyata: Produktivitas Naik 2 Kali Lipat
Program ini terbukti bukan sekadar wacana. Hamdan menjelaskan, optimasi lahan rawa yang sudah berjalan sukses mendongkrak angka panen secara drastis.
Jika sebelumnya lahan hanya menghasilkan sekitar 2 ton per hektare, kini produktivitasnya melonjak hingga 4 sampai 5 ton per hektare. Rahasianya? Kombinasi maut antara cetak sawah baru, pembangunan irigasi tersier, dan perbaikan jaringan irigasi yang selama ini terbengkalai.
Dengan kolaborasi antara petani milenial dan kelompok tani lokal (Gapoktan), Kaltim kini optimis bisa jadi lumbung pangan mandiri di masa depan. (ant/one)