Waspada Rabies! 31 Puskeswan di Kaltim Siaga Vaksinasi Masif
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) tancap gas mengadang penyebaran virus rabies. Sebanyak 31 Pusat Kesehatan Hewan (Puskeswan) di seluruh wilayah Kaltim kini dioptimalkan untuk memberikan layanan vaksinasi rutin bagi Hewan Penular Rabies (HPR).
Langkah preventif ini diambil mengingat risiko fatalitas rabies yang mencapai 100 persen bagi manusia jika sudah terinfeksi tanpa penanganan cepat.
Samarinda & Balikpapan Masih Zona Merah
Medik Veteriner Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan (DPKH) Kaltim, drh. Silvia Andryani, menegaskan bahwa kewaspadaan publik tidak boleh kendor. Pasalnya, dua kota besar di Kaltim masih berstatus wilayah tertular.
“Kasus infeksi mematikan ini masih ditemukan, khususnya di Kota Samarinda dan Balikpapan yang saat ini berstatus wilayah tertular,” ujar Silvia di Samarinda, Jumat.
Vaksinasi: Wajib Setahun Sekali
Seiring tren adopsi hewan peliharaan yang terus meningkat, risiko penyebaran virus pun semakin luas. Berikut poin penting yang perlu diperhatikan pemilik anabul (anjing dan kucing):
- Jenis Hewan: Fokus vaksinasi menyasar anjing, kucing, kera, hingga musang.
- Frekuensi: Suntikan vaksin wajib diberikan secara rutin setiap satu tahun sekali.
- Lokasi Layanan: Masyarakat bisa langsung mendatangi Puskeswan di 10 kabupaten/kota atau Klinik Kesehatan Hewan DPKH setempat.
- Program Gratis: Layanan imunisasi tanpa biaya biasanya tersedia pada momen khusus seperti HUT Kaltim atau Hari Rabies Sedunia.
Dinkes Siagakan ‘Rabies Center’
Tak hanya dari sisi kesehatan hewan, Dinas Kesehatan Kaltim juga memperkuat benteng pertahanan bagi manusia. Puluhan puskesmas dan rumah sakit di 10 kabupaten/kota kini resmi disiagakan sebagai Rabies Center.
Kepala Dinas Kesehatan Kaltim, Jaya Mualimin, mengimbau warga untuk tidak membiarkan hewan peliharaan berkeliaran bebas tanpa pengawasan.
“Vaksinasi rutin adalah kunci perlindungan ganda, baik untuk keselamatan hewan peliharaan itu sendiri maupun keamanan manusia di sekitarnya,” tegas Jaya.
Note: Rabies bersifat irreversible. Mencegah dengan vaksin jauh lebih baik daripada menangani risiko kematian pasca-gigitan. (ant/one)