Waspada! 77 Titik Panas Terdeteksi di Kaltim, BPBD Siaga Tempur Hadapi Karhutla
Samarinda, nusaetamnews.com : Alarm kewaspadaan dini menyalak di Kalimantan Timur (Kaltim). Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kaltim melaporkan sedikitnya 77 titik panas (hotspot) telah terdeteksi tersebar di berbagai kabupaten/kota. Temuan ini menjadi sinyal kuat ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) mulai mengintai Benua Etam.
Koordinator Pusdalops BPBD Kaltim, Cahyo Kristanto, menyatakan bahwa pihaknya saat ini sedang berada dalam posisi siaga sembari menunggu ketetapan resmi dari Pemerintah Provinsi.
“Status siaga bencana hidrometeorologi masih menunggu SK Gubernur. Regulasinya sedang berproses, dan kami berharap dalam waktu dekat sudah ditetapkan sebagai dasar penguatan penanganan di lapangan,” ujar Cahyo di Samarinda, Rabu (1/4).
Peta Kerawanan: Dari Gambut hingga Lahan Sawit
Berdasarkan pantauan terkini, titik panas tersebut terdeteksi di wilayah strategis mulai dari Kabupaten Paser, Kutai Barat, Kutai Kartanegara, Kutai Timur, Berau, hingga Kota Bontang.
BPBD memberikan catatan khusus pada kawasan lahan gambut. Belajar dari evaluasi tahun 2023, lahan gambut merupakan area dengan tingkat kerawanan tertinggi karena sifatnya yang sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan saat memasuki musim kekeringan.
Persiapan Matang Menuju Puncak Kemarau
Meski curah hujan masih terjadi di beberapa titik, BPBD Kaltim tidak ingin kecolongan. Langkah antisipasi mulai dipacu sebelum memasuki puncak musim kemarau yang diprediksi jatuh pada Juli hingga September 2026.
Langkah mitigasi yang sedang berjalan:
- Cek Fisik Sarpras: Memastikan seluruh mesin pompa air dan armada pemadam dalam kondisi 100% siap tempur.
- Kolaborasi Lintas Sektor: Memperkuat sinergi antara BPBD, Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH), perusahaan perkebunan, hingga Masyarakat Peduli Api (MPA).
- Edukasi Lapangan: Sosialisasi masif kepada warga agar tidak melakukan pembukaan lahan dengan cara dibakar.
Stop Bakar Lahan!
Cahyo menekankan bahwa kunci utama pengendalian karhutla bukan hanya pada pemadaman, melainkan pada pencegahan di level masyarakat. Risiko besar mengintai jika pola lama membuka lahan dengan api tetap dilakukan.
“Penanganan karhutla tidak bisa dilakukan sendiri-sendiri. Kami minta masyarakat lebih waspada. Jangan memicu api, terutama saat membuka lahan, karena dampaknya bisa sangat fatal bagi lingkungan dan kesehatan,” pungkasnya. (ant/one)