Ujian Kesiapsiagaan di Tengah Derasnya Desember, Banjir Bengintai
Bulan Desember gembira perayaan akhir tahun, namun juga kekhawatiran tahunan: Banjir. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah memprediksi bahwa Kalimantan Timur, termasuk Samarinda, berpotensi diguyur hujan dengan kategori menengah hingga tinggi, bahkan mencapai puncaknya hingga Januari mendatang. Ini adalah sinyal jelas, bukan sekadar peringatan rutin, bahwa kesiapsiagaan kota kita akan diuji sekali lagi.
Samarinda, dengan karakteristik geografis dataran rendah dan dikelilingi perbukitan, serta masalah kronis sedimentasi dan pendangkalan sungai, sudah akrab dengan genangan. Curah hujan di atas 50 mm per hari sudah cukup untuk memicu genangan, dan jika mencapai 100 mm atau berlangsung berturut-turut, potensi banjir besar tak terhindarkan.
Lalu, sejauh mana kesiapan Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda kali ini?
Upaya yang Patut Diapresiasi
Dalam beberapa waktu terakhir, terlihat adanya langkah konkret dari Pemkot Samarinda yang patut mendapat apresiasi.
- Pembentukan Komando Tanggap Darurat Bencana: Wali Kota telah membentuk Komando Pelaksanaan Tanggap Darurat Bencana yang melibatkan unsur pemerintah daerah, TNI, Polri, dan Forkopimda. Struktur komando gabungan ini menunjukkan keseriusan dalam mempercepat respons dan koordinasi di lapangan, berbasis data klimatologi untuk menentukan tingkat kewaspadaan.
- Mitigasi dan Normalisasi Infrastruktur: Pengendalian banjir telah dijadikan program prioritas. Upaya normalisasi Sungai Karang Mumus (SKM) terus digenjot, termasuk pembongkaran bangunan di bantaran sungai dan pengerukan sedimentasi. Pembangunan dan pemeliharaan kolam retensi, seperti Polder Air Hitam, juga menjadi fokus sebagai solusi teknis untuk menampung air.
- Kesiapsiagaan BPBD dan SAR Gabungan: Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) bersama tim SAR gabungan dilaporkan telah menyiagakan peralatan evakuasi dan relawan di titik-titik rawan. Model latihan terpadu dan koordinasi dengan tingkat kecamatan dan kelurahan juga diperkuat untuk memastikan informasi bencana sampai ke masyarakat secara tepat.
Tantangan yang Harus Dijawab
Meskipun langkah-langkah di atas adalah fondasi yang baik, terdapat beberapa tantangan yang menuntut perhatian lebih serius dan berkelanjutan:
- Implementasi Jangka Panjang: Normalisasi SKM dan pembangunan infrastruktur pengendalian banjir membutuhkan anggaran besar dan waktu yang panjang. Pemkot harus memastikan program-program ini berjalan secara konsisten dan tidak terhenti di tengah jalan. Komitmen politik untuk keberlanjutan proyek infrastruktur vital adalah kunci.
- Peran Serta Masyarakat (Hulu ke Hilir): Upaya teknis pemerintah akan sia-sia tanpa dukungan masyarakat. Masalah sampah yang menyumbat drainase dan alih fungsi lahan di kawasan perbukitan (hulu) yang memicu longsor dan peningkatan debit air ke hilir masih menjadi isu besar. Diperlukan edukasi yang lebih masif dan penegakan hukum yang tegas terhadap perusak lingkungan, termasuk penambangan liar.
- Data dan Informasi Akurat: Kesiapsiagaan berbasis data klimatologi yang diklaim Pemkot harus diterjemahkan menjadi sistem peringatan dini (early warning system) yang efektif dan mudah diakses oleh seluruh warga. Masyarakat perlu tahu titik-titik curah hujan kritis (misalnya di atas 100 mm) yang memerlukan evakuasi cepat.
Waktunya Aksi Nyata
Saat ini, kita telah melewati tahap perencanaan dan simulasi. Dengan potensi hujan ekstrem yang sudah di depan mata, waktunya bagi Pemkot Samarinda untuk membuktikan bahwa struktur komando yang dibentuk bekerja secara cepat, terpadu, dan efektif. Tidak ada ruang untuk lengah.
Ujian Desember ini bukan hanya tentang seberapa banyak pompa air yang disiapkan, tetapi juga tentang seberapa kokoh sinergi antara pemerintah, aparat, dan seluruh lapisan masyarakat. Kota ini membutuhkan kolaborasi lintas sektor yang kuat dan kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan drainase dan lingkungan.
Salam Redaksi
Setia Wirawan