Trump Tarik Rem Darurat , Iran Dimobilisasi 1 Juta Warga Lawan Rencana Operasi Darat AS
Washington, nusaetamnews.com : Presiden AS Donald Trump resmi mengumumkan penangguhan rencana serangan militer terhadap fasilitas energi Iran selama 10 hari ke depan. Keputusan ini diambil di tengah klaim Trump bahwa proses negosiasi antar kedua negara mulai menunjukkan sinyal positif.
Melalui platform Truth Social pada Kamis (26/3), Trump menyatakan penundaan ini merupakan respons atas permintaan dari pihak Teheran.
“Atas permintaan Pemerintah Iran, saya menangguhkan periode penghancuran Pembangkit Energi selama 10 hari hingga Senin, 6 April 2026, pukul 20.00 Eastern Time,” tulis Trump. Ia juga menambahkan bahwa pembicaraan berjalan sangat baik, meski sempat menyentil pemberitaan media yang ia sebut sebagai “berita palsu”.
Diplomasi “Lampu Hijau” Lewat Jalur Belakang
Meski situasi di lapangan masih tegang, jalur diplomasi dilaporkan mulai terbuka melalui perantara. Wakil Perdana Menteri sekaligus Menlu Pakistan, Mohammad Ishaq Dar, mengonfirmasi bahwa Pakistan menjadi jembatan pesan-pesan tidak langsung antara Washington dan Teheran.
Menlu Iran, Seyed Abbas Araghchi, juga mengakui adanya pertukaran pesan dalam beberapa hari terakhir. Namun, ia menegaskan bahwa Teheran belum melakukan pembicaraan tatap muka secara langsung sejak AS dan Israel melancarkan agresi besar-besaran pada 28 Februari lalu.
Timeline Konflik: Dari Ultimatum ke Penundaan
Ketegangan ini bermula dari serangkaian gertakan dan aksi militer di kawasan Teluk:
- Sabtu (21/3): Trump memberi ultimatum 48 jam kepada Iran untuk membuka total Selat Hormuz. Jika gagal, infrastruktur energi Iran jadi target utama.
- Senin (23/3): Trump sempat menunda serangan selama 5 hari setelah mengklaim adanya pembicaraan “produktif”, meski sempat dibantah pihak Iran.
- Kamis (26/3): Penundaan kembali diperpanjang hingga 6 April 2026.
Taruhan Besar di Selat Hormuz
Penundaan ini menjadi napas lega sesaat bagi stabilitas ekonomi global, mengingat ancaman serangan terhadap fasilitas energi dan penutupan Selat Hormuz berisiko memicu lonjakan harga minyak dunia secara ekstrem.
Pihak Teheran sendiri sebelumnya sudah memberikan warning keras akan melakukan serangan balasan di seluruh kawasan Timur Tengah jika Washington nekat menyentuh aset vital mereka.
Iran Siaga Satu! 1 Juta Warga Dimobilisasi Lawan Operasi Darat AS
Sementara itu, Tensi di Timur Tengah mencapai titik didih. Lebih dari 1 juta warga Iran dilaporkan telah dimobilisasi untuk menghadapi potensi konfrontasi darat langsung dengan pasukan Amerika Serikat (AS). Laporan ini mencuat setelah kabar mengenai rencana invasi darat AS ke wilayah Iran makin santer terdengar.
Dikutip dari kantor berita Mehr, Kamis (26/3), mobilisasi besar-besaran ini merupakan respons atas laporan The Wall Street Journal yang menyebutkan bahwa operasi militer darat oleh Pentagon sudah direncanakan dan diprediksi bakal segera dimulai.
Psywar di Media Sosial: “Selamat Datang di Iran, Kawan!”
Menanggapi ancaman tersebut, media militer Iran melancarkan serangan psikologis (psywar) melalui platform X. Mereka menegaskan kesiapan tempur yang sangat profesional, terutama dalam perang darat.
“Kepada semua prajurit Amerika! Kami harap kalian tahu bahwa Iran adalah tempat para pejuang Palestina, Lebanon, Irak, dan Yaman melatih kemampuan tempur darat profesional! Selamat datang di Iran, kawan!” tulis akun tersebut, Kamis (26/3).
Eskalasi Pasca-Gugurnya Pemimpin Tertinggi
Konflik ini merupakan kelanjutan dari serangan udara yang dilancarkan AS dan Israel pada 28 Februari lalu ke sejumlah target di Teheran. Serangan yang awalnya diklaim sebagai “tindakan preventif” terhadap program nuklir tersebut, kini diakui bertujuan untuk perubahan rezim.
Situasi makin pelik setelah Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, dinyatakan gugur pada hari pertama operasi militer AS-Israel. Saat ini, Iran masih dalam masa berkabung nasional selama 40 hari.
Kecaman Internasional & Reaksi Rusia
Aksi militer AS-Israel ini memicu reaksi keras dari Kremlin. Presiden Rusia, Vladimir Putin, menyebut pembunuhan Khamenei sebagai pelanggaran sinis terhadap hukum internasional.
Kementerian Luar Negeri Rusia mendesak adanya deeskalasi segera dan penghentian permusuhan guna mencegah kehancuran yang lebih luas di kawasan tersebut. Sementara itu, Iran sendiri sudah mulai membalas dengan mengincar fasilitas militer AS dan wilayah Israel di Timur Tengah. (ant/one)