Ternyata, Ini Dia Sosok Penemu “Batik Mahakam” Pemkot Samarinda
Di sebuah rumah di Jalan P Suryanata, Perum Pinang Bahtera Indah Blok A1 No. 1, suara mesin jahit pernah berdengung nyaris tanpa jeda. Bukan untuk pesanan biasa. Di sanalah, dari tangan seorang perempuan bernama Desi Solehah, lahir kain yang kemudian dipakai ribuan pegawai Pemerintah Kota Samarinda setiap Kamis.
Nama resminya, Batik Mahakam.
Desi bukan sekadar penjual. Ia pengrajin. Pemilik Batik Putri Syafril ini sudah lama berkutat dengan kain, pola, dan warna. Tapi satu hari di 2023 mengubah arah usahanya.
Tawaran itu datang dari Ibnu Araby, Kepala Dinas Koperasi, UMKM dan Perindustrian Samarinda kala itu. Ibnu kini menjabat sebagai Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Kota Samarinda. Ia datang langsung ke tempat usaha Desi.
“Penjual batik atau butik banyak, tapi pengrajin batik yang bisa buat ini Bu Desi,” katanya waktu itu.
Saat itu Wali Kota Samarinda, Andi Harun, sedang mencari desain batik khas yang benar-benar merepresentasikan Kota Tepian. Samarinda ingin punya identitas visual yang tak sekadar indah, tapi bermakna.
“Saya ditanya, bisa tidak bikin ini (batik khas Samarinda)?” kenang Desi.
Jawabannya tegas. “Dengan yakin saya jawab bisa.”
Meluruskan Identitas, Menguatkan Filosofi
Desi tidak sekadar menggambar motif. Ia membangun narasi tentang Samarinda di atas kain.
Riak Sungai Mahakam dan pesut jadi napas utama. Tapeh Kutai (sarung khas Kutai) menguatkan akar budaya dalam desain yang dibuatnya. Anggrek hitam dari Kutai Barat menegaskan kekayaan flora Kalimantan. Motif Dayak Kenyah memberi sentuhan etnik yang hidup. Motif merah hitam sarung Samarinda serta bunga rambai khas Banjar menyempurnakan harmoni baju batik yang dipakai semua pegawai Pemkot Samarinda setiap hari Kamis itu.
Awalnya, ada motif bunga bakung.
“Saya bilang salah, itu motif Jawa Timur. Akhirnya kita ganti dengan anggrek hitam,” cerita Desi.
Keputusan itu bukan soal estetika semata, melainkan soal jati diri. Samarinda tidak boleh kehilangan wajahnya sendiri.
“Jadi ada Kutai, Dayak, Banjar. Semua ada di situ,” ujarnya.
14.000 Seragam dan 60 Penjahit
Tahun 2023, pengadaan untuk PNS mencapai 8.000 unit. Tahun 2024, giliran guru sebanyak 6.000 unit. Total 14.000 potong.
Bukan angka kecil untuk pengrajin lokal. Pengerjaan itu melibatkan 60 penjahit batik terpilih di Samarinda. Desi tidak sekadar menyerahkan desain. Ia mengawal detail.
“Saya sudah desain, pecah pola, ini bagian leher, ini tangan kanan kiri, depan belakang,” paparnya.
Timnya turun langsung ke lapangan mengukur badan pegawai. Tak ada sistem serampangan. Semua dilayani.
Harga? Rp450 ribu bersih per unit.
“Banyak yang bertanya, Bu Desi ada untungnya? Saya jawab ada. Tapi buat apa saya berlebihan. Saya juga ingin mengabdi buat Samarinda.”
Murah, kata dia, tapi kualitas harus bagus.
Saat ribuan seragam itu mulai dipakai, Samarinda heboh. Selama hampir dua tahun sebelumnya, Pemkot bahkan sempat belajar ke Jawa untuk urusan desain batik.
“Sekalinya orang Samarinda yang bisa,” ucapnya bangga, tanpa nada jumawa menirukan ungkapan para pejabat di lingkungan Pemkot Samarinda.
Dari Tenaga Honor ke Penggerak Ekonomi
Sebelum sepenuhnya fokus di batik, Desi adalah tenaga honor di salah satu dinas Pemprov Kaltim. Ia memilih mundur.
“Allah itu adil. Ternyata rezeki saya di sini. Saya resign, ternyata berdampak bagi orang lain, banyak orang bekerja di sini. Makanya saya harus fokus.”
Usahanya bukan hanya soal kain. Ia membuka ruang kerja, menggerakkan penjahit, memberi penghasilan pada puluhan keluarga.
Bukan hanya itu, motif Batik Mahakam ini pun telah didaftarkan menjadi Hak Kekayaan Intelektual (HKI) dan diserahkan kepada Wali Kota Samarinda Andi Harun.
Kini, ia punya mimpi lebih jauh.
“Ke depan, saya maunya provinsi juga percaya pengrajin lokal.”
Ia bahkan menyimpan satu desain terbaik untuk Batik Kaltim. Belum ia keluarkan.
“Jika ada kesempatan dan ide saya diperlukan, saya akan tampilkan. Saya akan paparkan dengan semua filosofinya.”
Baginya, seni bukan sekadar lomba atau proyek.
“Menurut saya, seni itu tidak bisa dilombakan. Apalagi kalau jurinya justru tidak memahami seni itu sendiri.”
Di rumah sederhana di sudut Samarinda itu, Desi Solehah membuktikan satu hal: identitas kota tak selalu lahir dari gedung megah atau perjalanan studi ke luar daerah. Kadang, ia tumbuh dari keyakinan seorang pengrajin yang berani berkata, “Bisa.”