Subscribe

Suntik Modal Rp16,9 Miliar, BI Kaltim Dorong UMKM “Naik Kelas” Lewat Program Bima Etam

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Bank Indonesia (BI) Kantor Perwakilan Provinsi Kalimantan Timur terus memperkuat penetrasi modal bagi pelaku usaha lokal. Sejak 2025 hingga Maret 2026, BI Kaltim sukses memfasilitasi 163 pelaku UMKM untuk mendapatkan kucuran kredit perbankan dengan total nilai mencapai Rp16,97 miliar.

Deputi Kepala BI Kaltim, Bayuadi Haryanto, mengungkapkan bahwa capaian ini merupakan hasil dari konsistensi program Bima Etam (Business Matching Pembiayaan serta Edukasi dan Literasi Keuangan UMKM) yang kini telah memasuki seri ke-11.

“Program Bima Etam hadir sebagai one stop solution. Dari 833 UMKM yang ikut serta, 163 di antaranya berhasil lolos seleksi dan mendapatkan pembiayaan produktif senilai Rp16,97 miliar,” ujar Bayuadi di Samarinda, Rabu (1/4).

Solusi Lengkap dalam Satu Pintu

Bima Etam bukan sekadar ajang pertemuan bisnis, melainkan ekosistem pendampingan yang komprehensif. Melalui program ini, pelaku UMKM mendapatkan fasilitas yang selama ini sering menjadi kendala akses bank, seperti:

  • Pengecekan SLIK OJK: Memastikan rekam jejak kredit bersih.
  • Konsultasi Pembiayaan LJK: Pendampingan langsung dengan Lembaga Jasa Keuangan.
  • Literasi Digital: Pelatihan pencatatan keuangan berbasis aplikasi digital oleh BI.

Misi Lepas dari Ketergantungan Tambang

Langkah agresif BI Kaltim ini merupakan bagian dari strategi besar untuk mendiversifikasi ekonomi Benua Etam agar tidak melulu bergantung pada sektor pertambangan. Sektor pariwisata dan ekonomi kreatif menjadi bidikan utama karena dinilai lebih berkelanjutan dan mampu menciptakan lapangan kerja masif.

Salah satu success story yang terus dikawal adalah Kampung Tenun Samarinda. Sejak 2014, BI Kaltim telah menyuntikkan berbagai bantuan, mulai dari pembinaan inovasi produk turunan tenun, perbaikan galeri pameran (showcase), hingga dukungan atraksi wisata.

Fokus 2026: Green & Tourism UMKM

Tahun ini, BI Kaltim mempertajam fokus pengembangan dengan membagi UMKM ke dalam tiga kategori strategis:

  1. UMKM Subsisten: Penguatan kapasitas dasar usaha.
  2. UMKM Hijau: Mendorong produksi yang ramah lingkungan dan berkelanjutan.
  3. UMKM Pariwisata: Integrasi produk lokal dengan destinasi wisata unggulan.

“Kami ingin desa wisata dan UMKM menjadi motor baru perputaran ekonomi lokal. Pengembangan ini tidak hanya meningkatkan pendapatan masyarakat, tapi juga memperkuat identitas budaya Kaltim di mata dunia,” pungkas Bayuadi. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *