Suku Lost World Amazon Mengancam: Hutan Diganggu, Kontak Tak Terhindarkan!
Kisah dilema pahit terjadi di jantung Hutan Amazon, Peru. Suku Mashco Piro, kelompok nomaden yang terisolasi selama lebih dari seabad, kini semakin sering muncul di perbatasan desa-desa, memicu ketakutan sekaligus keprihatinan.
Ancaman Panah dan Jeritan di Rimba
Warga Desa Nueva Oceania seperti Tomas Anez Dos Santos kini hidup bertetangga dengan Mashco Piro. Tomas sendiri pernah nyaris dipanah saat bekerja di lahan terbuka.
“Salah satu dari mereka berdiri, membidik saya dengan anak panah… Saya lantas bilang: ‘Nomole’ (saudara),” kenang Tomas.
Kemunculan mereka yang meningkat di dekat desa—yang bukan cagar alam dan dikelilingi aktivitas penebangan kayu ilegal—diyakini karena hutan mereka terusik.
- Penyebab Utama: Aktivitas industri ekstraktif (penebangan, pertambangan, perminyakan) dan perburuan penonton oleh misionaris/pemengaruh media sosial.
- Risiko bagi Suku:
- Kepunahan Epidemiologis: Suku terisolasi tidak memiliki kekebalan tubuh memadai. Kontak apa pun bisa memusnahkan mereka, seperti yang terjadi pada Suku Nahau dan Muruhanua (50% populasi meninggal setelah kontak pertama).
- Kekerasan: Pada 2022, dua penebang kayu diserang Mashco Piro; satu tewas dengan sembilan luka panah.
Dilema Warga dan Solusi Darurat
Warga Nueva Oceania berada dalam posisi sulit: Takut dengan panah Mashco Piro, tetapi juga menghormati dan ingin melindungi “saudara-saudara” mereka.
Pemerintah Peru melarang kontak dengan suku terisolasi, tetapi warga merasa ditinggalkan. Akhirnya, mereka berinisiatif sendiri: menanam bahan makanan seperti pisang raja di kebun untuk dimakan suku, sebagai “hadiah” agar tidak diserang.
Kisah di Pos Kontrol ‘Nomole’
Hampir 200 km jauhnya, di tepi Sungai Manu, suku Mashco Piro yang berbeda hidup di cagar alam yang diakui negara. Pos kontrol “Nomole” dikelola oleh Kementerian Kebudayaan Peru dan LSM Fenamad untuk mencegah konflik.
Petugas seperti Antonio Trigoso Ydalgo berinteraksi dengan mereka secara rutin, memberikan makanan seperti pisang raja, singkong, atau tebu yang mereka tanam sendiri.
- Interaksi Unik: Mashco Piro di sana tidak tertarik pada dunia luar, tetapi terpikat pada kehidupan pribadi para petugas (keluarga, tempat tinggal). Mereka bahkan pernah memberikan mainan kerincingan dari tenggorokan monyet untuk bayi petugas.
- Ketertutupan Budaya: Mashco Piro akan menutup percakapan jika ditanya tentang kehidupan mereka di hutan, cara menyalakan api, atau di mana mereka berada. Ucapan “Jangan tanya” artinya seseorang telah meninggal.
Petugas meyakini Mashco Piro adalah keturunan penduduk asli yang melarikan diri dari eksploitasi dan pembantaian “saudagar karet” di akhir abad ke-19, memilih hidup nomaden dan hunter-gatherer demi keamanan.
Ancaman Baru dan Seruan Perlindungan
Meskipun terlindungi di cagar alam, pemerintah Peru merencanakan pembangunan jalan yang akan terhubung ke area penambangan ilegal.
Antonio, Kepala Pos Kontrol, tegas mengatakan:
“Dari pengalaman saya di pos ini, mereka tidak ingin menjadi ‘beradab’… [Mereka] bahkan tidak mau kami di sini.”
Sayangnya, RUU tahun 2016 untuk memperluas cagar alam hingga mencakup Desa Nueva Oceania belum pernah disahkan, membuat Mashco Piro dan warga desa terus berhadapan dengan ancaman industri penebangan. (BBC)