Subscribe

Stop ‘Pingpong’ Pasien! Sekda Kaltim Minta RSUD Berbenah Lewat Digitalisasi

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Pernah dengar cerita pasien yang sudah jauh-jauh datang ke rumah sakit rujukan, tapi ujung-ujungnya disuruh pindah lagi karena alat atau dokternya nggak ada? Fenomena “pingpong” pasien ini jadi sorotan tajam Sekretaris Daerah (Sekda) Kaltim, Sri Wahyuni.

Dalam keterangannya pada Rabu (4/2/2026), Sri menegaskan bahwa tata kelola rujukan di RSUD Kaltim sudah saatnya dirombak total. Menurutnya, rujukan yang “salah alamat” bukan cuma bikin penanganan medis jadi lelet, tapi juga bikin masyarakat makin skeptis sama kualitas layanan kesehatan publik.

Kenapa Pasien Sering “Dipingpong”?

Masalah utamanya ada pada miskomunikasi data. Seringkali, fasilitas kesehatan (faskes) tingkat pertama asal merujuk tanpa tahu kondisi real-time di RS tujuan.

“Rujukan harus selaras dengan kompetensi rumah sakit. Jangan sampai pasien sudah dirujuk, lalu dikoreksi lagi karena layanan yang dibutuhkan ternyata tidak tersedia,” ujar Sri Wahyuni.

Digitalisasi: Solusi Biar Gak Ada ‘PHP’ Medis

Untuk mengatasi hal ini, Pemprov Kaltim mendorong RSUD buat “melek” teknologi. Solusi yang ditawarkan adalah sistem digital terintegrasi.

Nantinya, lewat sistem ini, faskes bisa memantau secara langsung (real-time):

  • Ketersediaan dokter spesialis.
  • Update ketersediaan ruang rawat inap.
  • Kapasitas alat medis yang berfungsi.

Dengan transparansi data, pasien nggak bakal lagi dikirim ke rumah sakit yang kapasitasnya sudah full atau yang layanannya lagi off.

Bukan Cuma Soal Gadget, Tapi Skill SDM

Namun, Sri Wahyuni mengingatkan kalau sistem canggih saja nggak cukup. Hardware (alat medis) harus diimbangi dengan Software (tenaga medis) yang kompeten.

“Tidak cukup hanya punya alat. Dokter dan lingkungannya juga harus memenuhi syarat. Tanpa itu, klasifikasi layanan tidak akan tercapai,” tegasnya.

Efek Domino ke Dompet RSUD

Ada alasan kuat kenapa efisiensi ini mendesak. Jika kualitas layanan RSUD merosot, dampaknya bakal berimbas ke klaim BPJS Kesehatan. Sebagai instansi yang mengusung skema Badan Layanan Umum Daerah (BLUD), RSUD dituntut mandiri secara finansial. Kalau pasien gak puas dan klaim bermasalah, operasional rumah sakit bisa ikut goyang.

Sekda berharap, dengan perbaikan sistem rujukan ini, RSUD di Kalimantan Timur nggak cuma jadi gedung besar, tapi jadi tempat rujukan yang tertib, profesional, dan benar-benar berorientasi pada keselamatan pasien. (Ray)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *