Stop Cari Jalan Pintas! Psikolog Kaltim Warning Orang Tua Soal Bahaya Gadget dan Eksploitasi Anak
SAMARINDA – Tren orang tua yang memberikan gawai (gadget) agar anak diam atau demi konten media sosial mendapat kritik tajam. Ketua Majelis Psikologi Wilayah Kalimantan Timur, Nuraida Wahyu Sulistyani, menegaskan bahwa para orang tua wajib menguasai digital parenting untuk menyelamatkan tumbuh kembang anak dari ancaman kecanduan digital.
Nuraida menyoroti fenomena “jalan pintas” di mana orang tua membiarkan anak terpaku pada layar sementara mereka sibuk dengan urusan pribadi atau pembuatan konten.
Usia Emas vs Interaksi Satu Arah
Pada rentang usia 1 hingga 5 tahun (golden age), interaksi satu arah dari layar gawai dinilai sangat menghambat kemampuan sensorik dan motorik fisik anak. Nuraida menekankan bahwa teknologi boleh dikenalkan, namun harus sesuai dengan tahapan usia.
“Setiap anak memiliki harga diri utuh. Mereka mungkin tidak ingin diekspos secara publik, apalagi saat sedang sakit atau dalam kondisi berkebutuhan khusus hanya demi meraih followers atau keuntungan finansial,” tegas Nuraida, Sabtu (28/3).
Salah Sasaran: Kursus Bahasa Asing Digital pada Balita
Psikolog ini juga tidak menyarankan balita dipaksa belajar bahasa asing melalui perangkat digital. Menurutnya, stimulasi tersebut seringkali salah sasaran karena anak pada usia tersebut belum mampu menganalisis informasi, melainkan baru tahap meniru rutinitas.
Aktivitas yang Jauh Lebih Penting dari Kursus Akademis Dini:
- Aktivitas Fisik: Bermain di lapangan terbuka untuk melatih motorik kasar.
- Keterampilan Tangan: Belajar menggunting kertas dan menggambar bentuk bebas.
- Keseimbangan: Bermain sepeda atau aktivitas fisik lainnya.
Kecerdasan Intelektual Bermula dari Motorik
Nuraida menjelaskan bahwa kapasitas intelektual balita akan terbentuk secara alami seiring matangnya fungsi motorik mereka. Memaksakan kurikulum akademis yang berat pada usia dini justru berisiko kontraproduktif.
“Kematangan motorik adalah fondasi. Kecerdasan intelektual akan mengikuti secara maksimal jika fisiknya lincah dan terlatih,” tambahnya.
Sebagai langkah preventif, Nuraida mengimbau para orang tua agar lebih selektif dalam memilih sekolah. Pastikan institusi pendidikan tersebut memiliki kurikulum yang menghargai setiap tahap tumbuh kembang anak, bukan sekadar mengejar target angka. (ant/one)