Subscribe

Stop Broadcast! Semua Mau Nge-Vlog, Siapa yang Mau Ngedengerin?

2 minutes read

Guys, mari ngaku! Medsos sekarang udah kayak panggung audition raksasa. Nggak peduli latar belakang, semua diizinin tampil, ngomong apa aja, kapan aja. Ini nih zaman di mana literally semua orang bisa jadi stasiun TV-nya sendiri. Tapi, kalau semua sibuk bersiaran, siapa yang masih mau belajar jadi pendengar?

Fenomena ‘Siaran Tanpa Filter’ dan Drama Alerts!

Artikel ini ngebahas pergeseran budaya yang parah: kita berubah dari ingin memahami jadi ingin tampil.

  • Ruang Publik Campur Aduk: Batasan privasi kita runtuh. Orang makan, marah, ngamuk, bahkan bengong pun di-Live atau di-Story. Medsos serasa halaman belakang rumah, padahal isinya jutaan orang lewat.
  • Gatel Pengen Eksis: Tombol Live adalah panggung murah meriah. Semua pengen dilihat dan diakui sebentar, makanya nggak heran drama murahan laku kayak kacang goreng.
  • Kebebasan Tanpa Tanggung Jawab: Banyak yang ngerasa berhak nge-share apa aja. Padahal, kebebasan di ruang publik itu wajib punya rambu dan tanggung jawab!

Kenapa Medsos Jadi Chaos? Fix! Karena Nggak Ada ‘Redaksi’

Dulu, TV mau tayang harus lewat produser, editor, sampai sensor. Medsos? Cuih, semua dipotong! Setiap orang adalah ‘stasiun TV mandiri’ tanpa filter, tanpa editor, tanpa rem.

Dulu di TV/Media Sekarang di Medsos
Ada Filter/Verifikasi Hoaks dibungkus Pede dan langsung di-share.
Yang Bernilai Naik Yang Viral Otomatis Menang. Konten sensasional Auto FYP, yang bermutu tenggelam.
Ada Pertanggungjawaban Pelaku tinggal delete rekaman/akun, Kabur! Dampaknya? Publik yang kesasar.

Intinya, kita nonton lahirnya Generasi Penyiar yang cukup modal berani tampil, bukan modal isi yang layak.

Mulai Nge-Rem: Regulasi dan Kesadaran Netizen

  • Pemerintah Gerak!: Ada PP Tunas (Peraturan Perlindungan Anak di Sistem Elektronik). Ini sinyal bahwa ruang digital gak boleh liar; harus ada verifikasi usia, penyaringan konten, dan etika yang dijaga.
  • Wacana Sertifikasi Kreator: Mulai ada obrolan kalau influencer atau kreator konten yang ngomong ke publik perlu standar (kayak driver ojol perlu pelatihan, kenapa penyiar massa nggak?).
  • Self-Control: Tanggung jawab nggak bisa diserahin ke pemerintah doang. Kita sebagai netizen harus dewasa. Sadari: Tombol share bisa jadi pemantik kekacauan, dan komentar itu rekam jejak, bukan cuma ampas emosi.

Intinya gini, Guys: Medsos itu cermin kita. Kalau kita biarin jadi kolam keruh, kita ketarik tenggelam semua. Tapi kalau kita tata langkah bareng-bareng—dengan etika, tenggang rasa, dan akal sehat—medsos bisa jadi ruang dialog yang asik, bukan lagi rimba penuh noise. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *