Subscribe

Setelah Tambang Senyap, Para Pekerja Bertahan dari Upah Tebasan

3 minutes read

Kutai Kartanegara — Deru alat berat di areal tambang Desa Prangat Selatan (Prasel), Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara kini tinggal cerita. Sejak aktivitas perusahaan berhenti, sebagian karyawan kehilangan mata pencaharian. Salah satunya Udin, eks pekerja di PT Kaltim Diamond Coal (KDC).

Setahun terakhir, pria 46 tahun itu menjalani hidup sebagai pekerja serabutan. Dulu ia terbiasa dengan ritme kerja tambang. Pergi pagi pulang malam, atau pergi malam pulang pagi. Take home pay-nya lumayan lah. Tapi sekarang, ia harus akrab dengan parang dan rumput liar.

Sempat berharap peruntungan di Kalimantan Selatan, Udin pulang kampung untuk melamar ke sejumlah perusahaan tambang. Pengalaman kerjanya sebagai supir dump truck tak cukup membuka pintu perusahaan. Usia menjadi tembok yang sulit ditembus.

“Saya pulang ke Berabai, tapi tidak ada hasilnya. Susah, Pak, umur sudah 46 tahun. Tidak ada yang mau terima kalau umur segini,” ujarnya di salah satu warung kopi, Selasa (17/2/2026).

Tak ingin lama terpuruk, ia kembali ke Kalimantan Timur. Menurutnya, peluang kerja di Kaltim masih ada bagi yang mau berusaha. Hanya saja, jenis pekerjaannya tak lagi seperti dulu.
Kini hari-harinya diisi dengan menebas lahan pertanian milik warga. Beberapa rekannya sesama eks KDC melakukan hal serupa. Upahnya dihitung per hektare.

“Sehektare Rp2 juta sampai Rp2,5 juta kalau belukar biasa. Kalau rumputnya tinggi dan masih banyak pohon bisa Rp4 juta sampai Rp4,5 juta,” jelasnya.

Pekerjaan itu tak selalu ada setiap bulan. Kadang ia harus menunggu panggilan, kadang berpindah dari satu lahan ke lahan lain. Penghasilannya pun tak menentu. Sementara keluarganya tetap tinggal di Berabai dan membutuhkan biaya hidup.

Udin tak banyak menuntut. Ia hanya menyimpan satu harapan sederhana. Jika KDC kembali beroperasi, mungkin ia dan kawan-kawannya bisa kembali bekerja.

“Harapan saya kalau KDC buka lagi, mungkin kami-kami ini baru bisa diterima lagi,” katanya.

Di balik berhentinya aktivitas tambang, ada cerita tentang para pekerja yang berusaha bertahan. Dari ruang operator ke ladang warga, dari gaji tetap ke upah harian, mereka menyesuaikan diri dengan kenyataan. Sebab bagi Udin, yang terpenting bukan lagi soal gengsi pekerjaan, melainkan bagaimana dapur tetap ngebul.

Nasib karyawan perusahaan yang tak lagi menambang. Salah satunya eks karyawan PT Kaltim Diamond Coal (KDC) yang beroperasi di Desa Perangat Selatan (Prasel), Kecamatan Marangkayu, Kabupaten Kutai Kartanegara.

Sebutlah Udin, sudah setahunan ia terpaksa kerja serabutan. Dulu ia menjadi karyawan KDC. Setelah tak lagi bekerja di KDC, dirinya sempat balik ke kampung berharap bisa bekerja di perusahaan sejenis di Kalimantan Selatan.

Sayang, nasibnya kurang beruntung. Tidak ada satupun perusahaan tambang yang mau menerimanya bekerja kembali, meski ia sudah cukup berpengalaman.

“Saya pulang ke Berabai, tapi tidak ada hasilnya. Susah Pak, umur sudah 46 tahun,” kata Udin.

Ia hanya berharap KDC kembali beroperasi dan menerima karyawan lagi.

“Harapan saya kalau KDC buka lagi, mungkin kami-kami ini baru bisa diterima lagi,” harapnya.

Untuk menghidupi keluarganya yang masih tinggal di Berabai, Udin harus berjuang keras kerja serabutan. Menurutnya, meski nasibnya sulit, tapi mencari kerja di Kaltim masih lebih mudah, asal tidak malas.

Sekarang Udin sedang bekerja menebas lahan pertanian milik warga. Beberapa adalah rekan kerjanya sewaktu di KDC.

“Sehektare Rp2 juta sampai Rp2,5 juta, kalau belukar biasa. Kalau rumput tinggi dan masih banyak pohon di belukarnya bisa Rp4 juta sampai Rp4,5 juta,” kata Udin.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *