Subscribe

Setelah 13 Tahun Jembatan Nibung Akhirnya Diresmikan

2 minutes read

Penantian panjang warga Kadungan Jaya dan Pelawan akhirnya benar-benar berujung nyata. Setelah 13 tahun tertatih oleh persoalan teknis, administrasi, pembiayaan hingga cuaca yang kerap tak bersahabat, Jembatan Nibung resmi difungsikan, Selasa, 24 Februari 2026.
Peresmian dilakukan Gubernur Kalimantan Timur, Rudy Mas’ud, di hadapan warga dua kampung yang selama ini dipisahkan bentang sungai di Kecamatan Kaubun dan Sangkulirang.

“Yakinlah, jembatan ini bukan hanya milik kita, tapi milik kita semua,” ujar Rudy.

Baginya, jembatan ini bukan sekadar rangka baja sepanjang 390 meter. Ia menyebutnya sebagai bukti negara hadir hingga ke wilayah pesisir utara Kaltim—wilayah yang selama ini kerap terkunci akses.
Distribusi barang dan penumpang yang sebelumnya bergantung pada penyeberangan feri kini dipangkas signifikan. Waktu tempuh menuju Berau dari Kecamatan Karangan bisa lebih hemat sekitar 140 kilometer. Jika sebelumnya warga harus mengantre hingga empat jam saat air surut, kini perjalanan menjadi lebih cepat dan pasti.

Secara teknis, Kepala Dinas PUPR Kaltim Aji Muhammad Fitra Firnanda menjelaskan jembatan dibangun dengan struktur rangka baja A90 dan jalan pendekat komposit baja A30. Nilai konstruksi jembatan mencapai Rp98,36 miliar. Pembangunan juga mencakup jalan pendekat dari sisi Kadungan Jaya sepanjang 135 meter senilai Rp42,57 miliar, serta dari sisi Pelawan sepanjang 500 meter dengan nilai kontrak Rp135,8 miliar.

Rudy menegaskan, proyek yang menyangkut hajat hidup orang banyak tidak boleh dibiarkan mangkrak.
“Tidak ada pekerjaan yang tidak selesai sepanjang kita punya niat dan komitmen kuat. Pemimpin boleh berganti, tetapi tanggung jawab terhadap rakyat tidak boleh terhenti,” tegasnya.

Bupati Kutai Timur, Ardiansyah Sulaiman, menyebut penantian 13 tahun itu akhirnya terjawab. Ia menilai kehadiran jembatan akan menggerakkan ekonomi warga, terutama distribusi hasil kebun dan kebutuhan pokok.

Di tengah keramaian peresmian, Wati, warga Tepian Terap, tak bisa menyembunyikan kegembiraannya. Selama ini ia harus merogoh kocek hingga Rp400 ribu untuk sekali perjalanan belanja pergi-pulang ke Kaubun.

“Sekarang saya bisa hemat Rp400 ribu. Tinggal ongkos bensin saja,” katanya lega.
Untuk sementara, pengoperasian penuh masih menunggu uji beban kendaraan berat. Namun mulai Rabu, kendaraan roda dua dan roda empat sudah bisa melintas.

Bentang baja itu kini tak lagi menjadi janji yang tertunda. Ia telah berubah menjadi jalur nyata—menghubungkan dua kampung, memotong jarak, menekan biaya, dan membuka babak baru bagi wilayah utara Kalimantan Timur agar bergerak lebih cepat dan lebih sejahtera.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *