Senyum di Balik Lumpur: Cerita Relawan Kaltim “Peluk” Anak-Anak Korban Banjir Aceh Tamiang
Tim Relawan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur bersama TNI, Polri, BPBD, relawan, dan komunitas setempat terus melakukan bakti sosial pembersihan lumpur di fasilitas umum dan permukiman pengungsi di Aceh Tamiang. Pada Ahad (21/12/2025), pembersihan difokuskan di Puskesmas (PKM) Manyak Payed sebagai bagian dari upaya percepatan pemulihan pascabanjir.Memasuki hari ketiga kehadiran di Kecamatan Manyak Payed, Tim Relawan Benua Etam berjibaku bersama relawan dari berbagai provinsi memulihkan kondisi lingkungan dan sosial warga. Meski listrik telah kembali normal dan akses jalan mulai terbuka, ketersediaan air bersih serta aktivitas MCK masih sangat terbatas. Di sisi lain, tim kesehatan Dinas Kesehatan Kaltim melayani sedikitnya 53 warga dari balita hingga lansia, sementara dapur umum Dinas Sosial memproduksi sekitar 6.000 nasi bungkus per hari untuk tiga kali makan.Nampak dalam gambar tim relawan Kaltim berinteraksi dengan anak anak korban banjir Aceh Tamiang. (foto : BPBD Kaltim/Ray
ACEH TAMIANG – Kalau kamu melihat Aceh Tamiang hari ini, pemandangannya mungkin cuma puing rumah dan sisa lumpur. Tapi di balik duka itu, ada suara tawa kecil yang menolak kalah dari keadaan. Anak-anak di sana jadi bukti kalau harapan nggak bisa hanyut begitu saja terbawa air bah.
Tragedi banjir bandang ini memang nggak main-main. Rumah-rumah rata dengan tanah, sekolah terendam, bahkan masjid pun ikut terseret arus. Bagi banyak anak di sana, kejadian ini adalah trauma nyata yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Dalam, Sampai Atap…”
Seorang anak kecil bergumam polos saat bertemu Tim Relawan Kaltim Peduli Bencana pada Selasa (23/12). Kalimat itu singkat, tapi menggambarkan betapa mengerikannya air yang menelan rumah mereka tanpa permisi.
Untuk mengobati luka batin itu, para relawan dari Kalimantan Timur nggak cuma datang membawa kardus logistik. Mereka hadir dengan Layanan Dukungan Psikososial. Di Posko Desa Sukajadi, Kecamatan Karang Baru, para relawan ini “memeluk” mental anak-anak lewat hal sederhana: susu, kue, dan sapaan hangat.
Lebih dari Sekadar Nasi Bungkus
Bantuan dari masyarakat dan Pemprov Kaltim ini bener-bener jadi support system buat warga yang lagi terpuruk. Ketua Tim Relawan, Sugeng Priyanto, menceritakan kalau timnya sudah “all-out” sejak pekan lalu:
- Dapur Umum: Masak 6.000 nasi bungkus setiap hari.
- Beres-beres: Membersihkan fasilitas umum dari sisa lumpur.
- Layanan Medis: Evakuasi warga sakit ke puskesmas terdekat.
- Layanan Psikososial: Trauma healing buat anak-anak agar mereka bisa senyum lagi.
“Mungkin Hanya Allah yang Bisa Membalas”
Ucapan haru datang dari salah satu penyintas. “Terima kasih masyarakat Kaltim. Kami bahkan nggak sempat mikirin makan. Hanya Allah yang bisa balas kebaikan ini,” ucapnya dengan suara bergetar. Meski bekerja tanpa kenal waktu, bahkan seringkali dalam gelap karena listrik padam dan akses transportasi yang sulit, para relawan ini tetap bertahan. Bagi mereka, satu senyuman anak kecil di tengah puing rumah sudah lebih dari cukup untuk membayar rasa lelah. (Samsul Arifin)