Selat Hormuz Resmi “Disegel” Iran: Harga Minyak Terancam Tembus 200 Dolar AS!
Teheran, nusaetamnew.com : Kawasan Timur Tengah benar-benar masuk mode “kiamat” logistik. Iran secara resmi menyatakan telah menutup total Selat Hormuz, jalur nadi minyak paling krusial di dunia. Pesannya jelas: tidak ada satu pun kapal yang boleh lewat, atau risikonya bakal jadi abu.
Penasihat Komandan Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), Ibrahim Jabari, menegaskan langkah ekstrem ini diambil sebagai balasan atas agresi Amerika Serikat dan Israel yang menewaskan Pemimpin Tertinggi Iran, Ali Khamenei.
“AS Serakah Minyak, Biar Mereka Rasakan Akibatnya”
Jabari blak-blakan menyebut penutupan selat ini adalah serangan balik mematikan bagi ekonomi Barat. Ia memprediksi harga minyak bakal meroket gila-gilaan hingga 200 dolar AS per barel (sekitar Rp3,3 juta).
“Biar mereka tahu, kami sudah tutup Selat Hormuz. AS serakah akan minyak, dan sekarang mereka harus hadapi masalah besar akibat ulahnya sendiri,” tegas Jabari lewat kantor berita ISNA, Selasa (3/3).
Horor di Laut: 300 Tanker Terjebak, Biaya Kirim Naik 60%
Kondisi di lapangan sudah menunjukkan tanda-tanda chaos:
- Macet Total: Data MarineTraffic mencatat sekitar 300 kapal tanker kini terjebak di pintu masuk selat. Mereka cuma bisa diam menunggu keajaiban.
- Biaya Kirim Selangit: Efek dominonya, biaya asuransi pelayaran ke wilayah konflik naik drastis. Di Irak, biaya pengiriman laut dilaporkan melonjak hingga 60 persen.
- Zona Merah: IRGC mengklaim sudah menghajar tiga tanker milik AS dan Inggris dengan rudal, serta satu tanker AS lainnya disikat menggunakan drone.
Mengapa Selat Hormuz Begitu Vital?
Buat kamu yang belum tahu, Selat Hormuz itu ibarat “keran” utama dunia. Seperlima perdagangan minyak dan gas alam cair (LNG) global harus lewat sini. Kalau keran ini ditutup, ekonomi dunia otomatis “sesak napas”.
Secara geografis, Iran memang memegang kendali di sisi utara selat, sementara sisi selatan berbagi dengan UEA dan Oman. Namun, dengan kekuatan militernya, Iran kini mengubah selat tersebut menjadi zona larangan melintas yang mematikan.
Balas Dendam yang Meluas
Ketegangan ini bermula dari serangan udara masif AS-Israel pada 28 Februari lalu yang menghancurkan beberapa target di Teheran. Kini, Iran membalas tidak hanya lewat diplomasi, tapi dengan serangan rudal langsung ke fasilitas militer AS dan memutus jalur logistik energi dunia. (ant/one)