Sarang Burung Walet Paser Ambruk: Produksi Anjlok 80% Diduga Pindah ke Sulawesi, Petani Minta Riset, Pemkab Fokus Retribusi
TANA PASER, nusaetamnews.com : Sektor sarang burung walet di Kabupaten Paser, yang dikenal sebagai salah satu komoditas termahal, kini menghadapi bencana ekonomi yang disebut “mati suri.” Produksi anjlok drastis—dari rata-rata 3 kilogram per panen menjadi hanya setengah kilogram—dan hampir seluruh rumah walet (RBW) ditinggalkan penghuninya.
Keresahan ini semakin dalam lantaran para pengusaha menduga walet-walet tersebut tidak menghilang, melainkan melakukan migrasi massal ke Pulau Sulawesi, mencari zona nyaman yang lebih stabil dan kaya pakan.
“Kami sudah rugi besar. Ini bukan sekadar penurunan, tapi kolaps. Indikasinya kuat walet kami pindah karena perubahan lingkungan di Paser. Kami butuh riset mendalam, bukan hanya dugaan,” tutur Bardi (bukan nama sebenarnya), mewakili keresahan para petani walet Paser.
Ancaman Nyata Migrasi dan Dampak Domino
Jika dugaan walet exit ke Sulawesi ini benar, maka investasi miliaran rupiah pada RBW di Paser terancam sia-sia. Dampak ekonominya pun meluas, dari hilangnya potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) hingga ancaman Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) bagi para pekerja pemanen sarang.
Petani mendesak adanya intervensi cepat dari pemerintah untuk mengkaji faktor lingkungan, polusi, dan ketersediaan pakan.
Respons Pemkab: Fokus pada Administrasi dan Regulasi
Di tengah desakan untuk melakukan kajian ilmiah dan konservasi mendesak, respons dari Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Paser melalui dinas terkait justru terkesan fokus pada aspek administrasi dan regulasi.
Informasi yang beredar menunjukkan bahwa perhatian Pemkab lebih tertuju pada:
- Pendataan Retribusi: Memastikan semua RBW terdata dan patuh pada pembayaran retribusi, meski produksi sedang minim.
- Penataan Tata Ruang: Menegakkan regulasi mengenai zonasi RBW, terutama di kawasan padat penduduk, untuk meminimalkan gangguan lingkungan.
Fokus Pemkab pada aspek cuan (pajak dan retribusi) tanpa didahului riset ekologi membuat petani walet merasa suaranya belum didengar sepenuhnya.
“Kami tidak masalah bayar retribusi, tapi bagaimana kami bisa bayar kalau tidak ada yang dipanen? Kami butuh solusi agar waletnya kembali dulu, baru bicara pendapatan daerah,” keluh Bardi.
Kini, nasib sarang emas Paser berada di persimpangan jalan, menunggu apakah Pemkab akan beranjak dari meja administrasi untuk segera menjawab misteri migrasi dan menyelamatkan salah satu komoditas andalan daerah tersebut. (one)