Sangatta “Lautan” Spanduk Protes! Warga & Mahasiswa Kecam Bus Karyawan PT KPC yang Makan Korban
SANGATA, nusaetamnews.com : Suasana di Ibukota Kutai Timur, Sangatta, mendadak “panas”. Bukan karena cuaca, tapi karena gelombang protes warga yang memenuhi sudut kota dengan spanduk-spanduk kecaman. Pemicunya? Keresahan akut terhadap bus karyawan PT Kaltim Prima Coal (KPC) yang bebas seliweran di jalan umum dan dinilai jadi ancaman maut.
Protes ini mencapai puncaknya setelah kecelakaan maut seminggu lalu yang merenggut nyawa seorang warga. Publik pun bertanya-tanya: sampai kapan jalan raya kota jadi “jalur tambang” yang berisiko tinggi?
Suara Kekecewaan: “Hanya Tertib di Kawasan Tambang”
Aksi pasang spanduk ini bukan tanpa alasan. Menurut Wakil Presiden BEM STIPER Kutai Timur, Yogi Oktanis, ini adalah puncak dari rasa cemas dan kecewa warga yang selama ini terpendam.
Senada dengan itu, Sekretaris PMII Kutim, Zambohari, menyoroti double standard operasional bus perusahaan.
“Mereka (bus karyawan) hanya tertib di dalam kawasan tambang saja, kalau di jalan raya asal-asalan,” cetusnya.
Bus-bus raksasa ini kabarnya sering “menguasai” jalan Yos Sudarso pada jam sibuk pagi dan sore hari, memicu kemacetan parah dan membahayakan pengguna motor.
Kritik Pedas buat Pemerintah: Jangan “Bungkam”!
Mahasiswa dan aktivis menyayangkan sikap Pemerintah Daerah yang dinilai belum melakukan langkah konkret setelah tragedi nyawa melayang tersebut. Ketua GMNI Kutim, Deo Kacaribu, memberikan peringatan keras.
“Ini bukan soal siapa, tapi semua bisa kena. Apa harus merenggut nyawa lagi supaya pemerintah bertindak?” tegas Deo.
Alarm Keras Kelalaian Sistemik
Koordinator G20 Mei Kutim, Erwin Syuhada, menilai rentetan kecelakaan ini bukan lagi sekadar musibah, tapi bukti kelalaian sistemik. Ia menyoroti fakta miris bahwa korban seringkali berasal dari kelompok rentan seperti anak-anak.
Baginya, jalan umum yang seharusnya aman kini berubah fungsi jadi jalur industri berisiko tinggi. Spanduk-spanduk yang bertebaran di jalanan adalah “alarm” terakhir agar keselamatan publik jadi prioritas utama, bukan sekadar urusan operasional perusahaan.
Apa Tuntutannya?
Warga dan aktivis menuntut adanya regulasi ketat dan kebijakan nyata. Mereka tidak ingin ada pembiaran yang berpotensi memakan korban berikutnya. Jangan sampai kepentingan industri mengorbankan nyawa warga di jalanan sendiri. (ant/one)