Subscribe

Sangasanga: Ketika Merah Putih Membakar Langit Kalimantan

3 minutes read

SANGASANGA, nusaetamnews.com : Udara di “Kota Juang” pagi itu, Selasa (27/1/2026), tidak hanya membawa aroma tanah Kalimantan yang lembap, tetapi juga getaran memori yang kuat. Di sini, 79 tahun silam, sejarah tidak ditulis dengan tinta, melainkan dengan keringat dan keberanian rakyat yang menolak tunduk.

Setiap tanggal 27 Januari, Sangasanga seolah menarik napas panjang. Bendera Merah Putih berkibar di setiap sudut, bukan sekadar kain dua warna yang menari ditiup angin, melainkan sebuah pernyataan sikap yang masih bergema sejak 1947: bahwa kemerdekaan Indonesia adalah harga mati, bahkan di pelosok penghasil minyak sekalipun.

Denyut Perlawanan dari Pinggiran

Sejarah mencatat bahwa pada 27 Januari 1947, rakyat Sangasanga bangkit melawan ambisi Belanda yang ingin kembali menguasai lumbung energi Kalimantan Timur. Mereka tidak menunggu instruksi dari pusat kekuasaan di Jawa. Dengan persenjataan seadanya namun tekad yang meluap, para pejuang lokal membuktikan bahwa kedaulatan bangsa bermula dari keberanian warga di garis depan.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur, H. Seno Aji, yang berdiri sebagai Inspektur Upacara di Palagan Kota Juang, mengingatkan kembali bahwa Sangasanga adalah antitesis dari narasi perjuangan yang sentralistik.

“Sangasanga membuktikan bahwa perjuangan tidak mengenal pusat dan pinggiran. Kemerdekaan hanya bisa diraih dengan semangat kolektif, dilakukan secara bersama-sama,” tegas Seno Aji di hadapan peserta upacara.

Warisan Moral untuk Generasi Emas

Bagi Seno Aji, peringatan tahunan ini bukanlah sekadar rutinitas protokoler. Ia adalah ruang refleksi di tengah arus disrupsi teknologi dan tantangan global yang semakin kompleks. Jika dulu musuhnya adalah serdadu kolonial, kini musuh yang dihadapi adalah ketimpangan sosial, krisis lingkungan, dan ancaman disintegrasi.

Nilai-nilai dari Palagan Sangasanga—keteguhan, keberanian mengambil risiko, dan kesetiaan pada tujuan bersama—kini diletakkan sebagai fondasi moral untuk menyongsong Generasi Emas 2045. Terlebih, Kalimantan Timur kini memikul beban sejarah baru sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN).

“Semangat juang Sangasanga harus diterjemahkan ke dalam kerja nyata: menjaga persatuan, memperkuat toleransi, dan membangun daerah secara adil,” tambah Wagub.

Merawat Ingatan, Membangun Masa Depan

Pemerintah Provinsi Kaltim berkomitmen bahwa situs-situs sejarah di Sangasanga tidak boleh hanya menjadi benda mati. Monumen dan narasi kepahlawanan ini harus menjadi ruang edukasi lintas generasi agar anak muda Kaltim tidak tercerabut dari akar sejarahnya.

Suasana khidmat upacara tersebut turut dihadiri oleh:

  • H. Samsun (Anggota DPRD Kaltim)
  • Rendi Solihin (Wakil Bupati Kutai Kartanegara)
  • Ratusan pelajar, mahasiswa, dan warga lokal yang menjadi saksi sejarah yang terus hidup.

Saat upacara berakhir, riuh rendah suara masyarakat dan langkah kaki para pelajar meninggalkan lapangan menjadi simbol bahwa estafet perjuangan telah berpindah tangan. Di Sangasanga, Merah Putih akan selalu punya cerita tentang bagaimana sebuah kota kecil memberikan cinta yang begitu besar bagi Republik ini. (ray)

MARKAS “MERAH PUTIH”

PERDJOEANGAN RAKJAT KALIMANTAN TIMOER.

PENGOEMOEMAN

Malam Kemaren tanggal 26 sore Djanoeari 1947 djam 5-soeboeh, pedjoeang2 kita menang gilang gemilang dapat berontak mereboet/membeset tangsi, serdadoe2 Belanda soedah dtangkapi/ditawan semoea, Belanda2 BPM serdadoe2 KNIL Polisi Tjatjing2 Andjing2 NICA penghianat bangsa semoeanja, telah dirampas/ disita semoea sendjata/misioe.

Pemerentahan 27 Djanoeari 1947 pagi2 soedah kita koeasai semoea, dan kemerdekaan Sanga2 Anggana Moearadjawa dan sekitarnja telah Merdeka 100% menjadi daerah R.I. dan teroes menggaboengkan diri kepada Pemerentahan Poesat R.I. Djokjakarta.

Kekoeasaan sepenoehnja ditangan kita seloeroehnja. Perang (SOB) sebagaimana mempertahankannja.

Pertahanan disemoea sektor di tambah koeat dan sendjata2 misioe bekal makanan pakaian dil setjoekoepnja.

Tawanan2 perang selaloe didjaga ketat djangan sampai lari, awasi mata2nja dan Gerak geriknja, djoega goedang2 roemah2 peroesahaan diamankan.

Seloeroeh pengeloearan diketahoei semoeanja, pegawai boeroeh B.P.M. soepaja toeroen bekerdja kembali seperti biasa, gadjih bolih dibajar rangsoem Toko SIVO bolih dibagikan djoega/pakaian oentoek pedjoeang2 semoeanja.

Pengoemoeman ini dan Proklamasi

Bolih diperbanjak dan disiarkan

Di tempel2kan diloear daerah dll.

Sanga2 28 Djanoeari 1947.

Komandan Markas

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *