Subscribe

Sanga-Sanga 27 Januari: Bukan Sekadar Seremonial, Tapi Bahan Bakar Digital Gen Z Kaltim

2 minutes read

TEPAT 79 tahun yang lalu, di tanah Sanga-Sanga, desing peluru dan pekik “Merdeka!” bukan sekadar latar suara film dokumenter. Pada 27 Januari 1947, para pejuang di Kutai Kartanegara membuktikan bahwa keberanian tidak mengenal kasta senjata. Dengan perlengkapan seadanya, mereka merebut kekuasaan dari tangan Belanda demi mengibarkan Sang Saka Merah Putih.

Hari ini, 27 Januari 2026, kita tidak lagi berada di parit perlindungan. Kita berada di era di mana Kalimantan Timur menjadi panggung utama masa depan Indonesia lewat Ibu Kota Nusantara (IKN). Namun, pertanyaannya: Di mana posisi Milenial dan Gen Z Kaltim dalam pusaran sejarah yang baru ini?

Warisan Nyata: Dari Minyak ke Kreativitas

Sanga-Sanga dikenal sebagai “Kota Juang” sekaligus gudang emas hitam (minyak). Jika dulu para pendahulu bertaruh nyawa untuk menjaga sumber daya alam dari tangan penjajah, maka tugas generasi hari ini adalah menjaga “sumber daya intelektual”.

Bagi Milenial yang kini mulai menduduki posisi strategis dan Gen Z yang mendominasi ruang digital, semangat Sanga-Sanga perlu didefinisikan ulang:

Keberanian Berinovasi: Jika pejuang dulu berani menyerbu tangsi Belanda, pemuda sekarang harus berani mendobrak zona nyaman dengan menciptakan lapangan kerja berbasis teknologi.

Kedaulatan Konten: Di era banjir informasi, menjadi “pejuang” berarti mampu memproduksi konten yang edukatif dan melawan hoaks yang berpotensi memecah belah persatuan di Bumi Etam.

Relevansi di Tengah Gempuran IKN

Kita harus jujur: ada kekhawatiran bahwa pemuda lokal hanya akan menjadi penonton di tengah megahnya pembangunan IKN. Peristiwa Sanga-Sanga mengajarkan kita tentang kedaulatan. Kedaulatan tidak diberikan secara cuma-cuma; ia direbut dengan persiapan dan keberanian.

Milenial dan Gen Z Kaltim tidak boleh hanya puas dengan status “putra daerah”. Anda harus menjadi “pemain global” yang berpijak di tanah lokal. Semangat pantang menyerah dari para pahlawan Sanga-Sanga adalah vibe asli yang lebih kuat dari sekadar tren viral di media sosial.

 “Sejarah bukan untuk dipuja-puja dalam upacara, melainkan untuk dipinjam apinya guna menerangi jalan di masa depan.”

Menutup Celah Apatisme

Jangan biarkan 27 Januari hanya menjadi tanggal merah di kalender atau sekadar unggahan instastory formalitas. Jadikan ini momentum untuk berefleksi: Sudahkah kita memberikan kontribusi nyata untuk Kaltim, atau kita masih sibuk mengeluh tanpa solusi?

Sanga-Sanga adalah bukti bahwa ketika anak muda bersatu dengan visi yang jelas, kemustahilan bisa ditekuk. Mari kita bawa “merah putih” itu ke dalam kode pemrograman, karya seni, kebijakan publik, dan usaha rintisan yang memajukan daerah. (setia wirawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *