Subscribe

Samarinda ‘Double Tap’! Kejar Infrastruktur Canggih Sekaligus Gerakan Penghijauan Massif Demi Kota Tangguh

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Kota (Pemkot) Samarinda, Kalimantan Timur, lagi all-out menjalankan strategi pembangunan cerdas. Mereka berupaya mengimbangi pesatnya pembangunan infrastruktur modern dengan program penghijauan masif demi menciptakan kota yang tangguh (resilient city) di tengah tantangan urbanisasi dan perubahan iklim.

Wali Kota Samarinda, Andi Harun, di Samarinda, Kamis, menegaskan bahwa fokus utama pemerintah saat ini adalah mitigasi bencana, terutama banjir dan tanah longsor.

“Fokus pemerintah daerah saat ini adalah mitigasi bencana, terutama banjir dan tanah longsor,” kata Andi Harun.

Kolaborasi Tiga Pilar Kota Tangguh

Pemkot Samarinda menjalankan kolaborasi intensif dengan berbagai stakeholder untuk mengatasi masalah lingkungan ini. Kolaborasi difokuskan pada tiga langkah konkret:

  1. Mengelola sungai.
  2. Merevitalisasi drainase.
  3. Melakukan restorasi lahan kritis di wilayah Samarinda.

Pembaruan infrastruktur modern seperti layanan digital diakui menjadi fondasi utama untuk mewujudkan kota tangguh, yang diharapkan dapat mendukung mobilitas dan ekonomi tanpa membebani lingkungan.

Sebagai bukti strategi kota tangguh, Pemkot sedang mengembangkan kawasan terpadu yang ramah lingkungan, seperti:

  • Pembangunan Teras Samarinda.
  • Kawasan waterfront city, yang mengusung konsep creative hub dan rekreasi urban.

Penghijauan: Senjata Melawan Urban Heat Island

Di samping fondasi infrastruktur, penghijauan menjadi aspek krusial kedua. Samarinda kini gencar menanam pohon di berbagai area perkotaan. Langkah ini bukan sekadar estetika, melainkan upaya konkret untuk:

  • Menyerap polusi udara.
  • Mengurangi efek panas perkotaan, atau yang dikenal sebagai urban heat island (pulau panas perkotaan).

Saran KemenPU: Jadikan Samarinda Sponge City!

Kepala Pusat Pengembangan Infrastruktur Kementerian PU Wilayah I, Boby Ali Azhari, turut menekankan pentingnya strategi pembangunan yang tepat. Menurutnya, pembangunan harus didasarkan pada rencana induk (master plan) yang adaptif dan berkelanjutan.

Boby memperkenalkan konsep penting yang harus diterapkan konsisten:

  • Konsep Sponge City (Kota Spons): Kota yang mampu menyerap dan mengelola air hujan secara alami.
  • Konsep Resilient City (Kota Tangguh): Kota yang mampu menghadapi tantangan perubahan iklim dan urbanisasi.

Kritik Pengamat: Jangan Hanya Tambal Atap Bocor!

Pengamat kebijakan publik Samarinda, Risca Amelia, memberikan pandangan tajam. Ia menilai normalisasi sungai tanpa penghijauan masif ibarat menambal atap bocor untuk solusi sementara.

Menurut Risca, solusi jangka panjang adalah memperbaiki fondasi ekologi secara menyeluruh. Ini membutuhkan:

  • Kolaborasi serempak: Pemerintah, akademisi, pihak swasta, dan warga.
  • Dukungan mutlak: Transparansi anggaran, prioritas perencanaan yang jelas, dan jaminan keberlanjutan.

Tujuan akhirnya bukan hanya mengurangi korban banjir, tetapi meninggalkan warisan kota yang tangguh dan hijau bagi generasi mendatang. Ant/one

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *