Rupiah Tembus Rp16.900, Bank Indonesia Langsung “Turun Gunung” Amankan Pasar!
Jakarta, nusaetamnews.com : Gejolak di Timur Tengah ternyata nggak cuma bikin panas peta politik dunia, tapi juga “membakar” nilai tukar Rupiah. Hari ini, Rabu (4/3), mata uang Garuda terpantau menembus level Rp16.900 per dolar AS. Menanggapi situasi ini, Bank Indonesia (BI) langsung pasang mode siaga satu.
Deputi Gubernur Senior BI, Destry Damayanti, menegaskan bahwa bank sentral nggak akan tinggal diam. Mereka bakal terus “nangkring” di pasar untuk memastikan stabilitas nilai tukar tetap terjaga di tengah badai global.
Strategi Intervensi: Jaga Pasar Biar Gak “Oleng”
BI sudah menyiapkan jurus intervensi yang tegas dan konsisten melalui tiga jalur utama:
- Pasar Offshore: Transaksi Non-Deliverable Forward (NDF).
- Pasar Domestik: Transaksi spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF).
- Pasar Sekunder: Pembelian Surat Berharga Negara (SBN).
“Intervensi tegas akan terus kami lakukan. Intinya, BI akan selalu ada di pasar untuk mencegah dampak meluas dari konflik Timur Tengah,” tegas Destry di Jakarta.
Tenang, Kondisi Kita Masih Lebih Oke dari Tetangga
Meski Rupiah melemah ke angka Rp16.930 per dolar AS pagi ini, Destry menyebut kalau pelemahan ini sebenarnya masih wajar dan sejalan dengan mata uang negara regional lainnya.
Bahkan secara month-to-date (mtd), pelemahan Rupiah yang di angka 0,51% diklaim masih lebih “tangguh” dibanding mata uang tetangga di kawasan Asia.
Dompet Negara Masih Tebal
Buat kamu yang khawatir ekonomi kita goyah, BI punya data yang cukup menenangkan:
- Cadangan Devisa: Tetap kokoh di angka 154,6 miliar dolar AS (per akhir Januari 2026).
- Aliran Modal Asing: Sepanjang tahun 2026, modal asing yang masuk ke pasar keuangan domestik sudah mencapai Rp25,7 triliun.
Artinya, meski dolar lagi galak-galaknya karena tensi Iran-AS, pondasi ekonomi Indonesia masih punya napas panjang untuk bertahan. (ant/one)