Rupiah Nyaris Tembus Rp17.000 Imbas Perang Iran-AS, Bank Indonesia Pasang Badan!
Jakarta, nusaetamnews.com : Nilai tukar Rupiah langsung “kebakaran” menyusul eskalasi konflik berdarah antara Iran dengan Amerika Serikat dan Israel. Menanggapi sentimen risk-off global yang kian mencekam, Bank Indonesia (BI) memastikan akan melakukan intervensi total untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda agar tetap sesuai fundamentalnya.
Kepala Departemen Pengelolaan Moneter dan Aset Sekuritas BI, Erwin Gunawan Hutapea, menegaskan bahwa bank sentral tidak akan tinggal diam dan terus memantau pergerakan pasar secara real-time.
“BI akan tetap berada di pasar untuk melakukan intervensi melalui transaksi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga NDF di pasar luar negeri,” tegas Erwin di Jakarta, Senin (2/3).
Rupiah Melemah Tajam di Pembukaan Pekan
Pada pembukaan perdagangan Senin pagi, Rupiah langsung merosot 42 poin (0,25%) ke posisi Rp16.829 per dolar AS. Analis mata uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, memproyeksikan tekanan ini akan terus berlanjut di kisaran Rp16.750 hingga Rp16.900 per dolar AS sepanjang hari ini.
Kondisi ini dipicu oleh kepanikan pasar global yang cenderung menghindari aset berisiko dan mengalihkan dana mereka ke aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.
Konteks Global: Iran Membara Pasca-Kematian Khamenei
Guncangan ekonomi ini merupakan dampak langsung dari serangan militer masif yang dilancarkan AS dan Israel ke Teheran pada Sabtu (28/2). Situasi mencapai titik nadir setelah:
- Ayatollah Ali Khamenei Konfirm Terbunuh: Televisi pemerintah Iran mengonfirmasi kematian Pemimpin Tertinggi tersebut akibat serangan gabungan AS-Israel.
- Masa Berkabung & Balas Dendam: Iran menetapkan 40 hari masa berkabung dan libur nasional selama sepekan.
- Sumpah IRGC: Korps Garda Revolusi Islam Iran (IRGC) telah bersumpah akan melancarkan aksi balasan yang lebih hebat atas kematian Khamenei.
Strategi BI Kedepan
Selain intervensi nilai tukar, BI juga akan mengoptimalkan efektivitas transmisi kebijakan suku bunga. Langkah ini diambil guna meredam dampak inflasi impor akibat melemahnya Rupiah dan memastikan kepercayaan investor tetap terjaga di tengah ketidakpastian geopolitik Timur Tengah. (ant/one)