Rupiah Melemah, Pasar Terdiam: Pedagang Kecil Bertahan di Tengah Daya Beli yang Sekarat
SAMARINDA – Nilai tukar rupiah yang terus melemah dan kian mendekati Rp17 ribu per Dollar Amerika bukan sekadar angka di layar bursa. Di balik kurs yang merosot, denyut ekonomi rakyat kecil ikut tersendat.
Di Jakarta, kegelisahan itu sudah berubah menjadi aksi. Sejumlah penjual daging memilih mogok berjualan. Harga daging yang melambung tinggi dari distributor membuat mereka tak lagi sanggup menutup modal, apalagi meraup untung. Mereka mengancam mogok jualan hingga Sabtu mendatang.
Gelombang resah itu menjalar hingga ke pasar-pasar daerah. Di Pasar Sungai Dama, Samarinda, Abdul Nurdin menjaga lapaknya dengan wajah letih. Beberapa bulan terakhir, pasar terasa semakin lengang. Pembeli jauh berkurang.
“Jualan sepi sekali sejak beberapa bulan terakhir ini,” ujarnya lirih.
Dilema Nurdin sederhana, tapi menyesakkan. Hampir semua harga naik, sementara kantong pembeli semakin kempis. Apakah ini dampak dari ‘pengempesan’ transfer pusat ke daerah, entahlah.
Singkong yang dulu dijual seharga Rp5 ribu hingga Rp6 ribu, kini tak bisa dilepas di bawah Rp8 ribu, bahkan Rp10 ribu.
“Harga naik dari petani. Mungkin mereka sendiri sudah tertekan oleh harga kebutuhan yang semakin mahal, sehingga mereka pun menaikkan harga,” kata Nurdin. Rantai tekanan itu terus mengalir, dari hulu ke hilir, tanpa jeda.
Kisah serupa datang dari Pasar Merdeka. La Ali, pedagang lain, menghadapi persaingan yang semakin getir. Saat pembeli makin jarang, sesama penjual justru saling banting harga, bukan untuk menang, tapi sekadar bertahan.
“Saya sudah jual murah, tapi ada saja yang jual lebih murah. Bahkan sama dengan harga belinya,” tutur La Ali.
“Kata mereka, biar barang tidak busuk dan modal kembali saja, daripada dibuang percuma malah rugi.”
Tumpukan karung berisi sayur mayur pun dibuang karena sudah busuk karena tidak laku dijual.
Harga bawang juga naik. Biasanya sekitar Rp30 ribu per kg, sekarang Rp60 ribu. Begitu juga dengan ikan. Ikan yang dulu dijual Rp15 ribu per kg, sekarang dijual Rp45 ribu sampai Rp50 ribu per kg.
Di tengah situasi seperti ini, untung bukan lagi target. Bisa bertahan saja sudah dianggap pencapaian. Bagi pedagang kecil, hari ini bukan soal berkembang, melainkan soal tidak tumbang.
Pasar masih buka, lapak-lapak masih berdiri. Namun di balik itu, ada kecemasan yang terus menggantung, menunggu apakah esok masih ada pembeli, atau justru saatnya menutup dagangan dan menyerah pada keadaan.