Subscribe

Rapor Merah Alam Kaltim 2025: Samarinda Teratas, Banjir Masih Jadi “Menu Utama”

3 minutes read

SAMARINDA, nusaeamnews.com : Tahun 2025 baru saja berlalu, namun catatan dari Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Kaltim memberikan kita “kado” akhir tahun yang cukup menyesakkan dada. Kalimantan Timur, yang sering dianggap sebagai wilayah aman, ternyata harus berjibaku dengan ribuan insiden bencana yang menguji ketangguhan infrastruktur dan warganya.

Bukan cuma soal angka, data ini adalah alarm keras bagi kita semua bahwa perubahan iklim dan tata ruang bukan lagi sekadar isu di atas kertas.

Anatomi Bencana: Banjir dan Api Mendominasi

Sepanjang tahun 2025, Kaltim mencatat variasi bencana yang cukup ngeri. Banjir masih menjadi “juara bertahan” yang paling sering menyapa warga. Tercatat ada 268 kejadian banjir yang merendam berbagai titik di Benua Etam.

Namun, yang tak kalah mengkhawatirkan adalah angka kebakaran permukiman yang membuntuti tipis di posisi kedua dengan 259 kejadian. Ini artinya, ancaman si jago merah di area padat penduduk hampir sama besarnya dengan ancaman air bah.

Berikut adalah breakdown lengkap “wajah” bencana Kaltim 2025:

  • Top 3: Banjir (268), Kebakaran Permukiman (259), Tanah Longsor (149).
  • Menengah: Gempa Bumi (60), Cuaca Ekstrem (43), Karhutla (34).
  • Lainnya: Gelombang Tinggi/Abrasi (2), Kekeringan (2), dan insiden lain-lain (45).

Mapping Zona Merah: Samarinda dalam Sorotan

Jika bicara soal lokasi, Samarinda masih memegang predikat sebagai wilayah paling rawan. Dengan total 232 kejadian, ibu kota provinsi ini menyumbang hampir seperempat dari total bencana di seluruh Kaltim. Kesibukan pembangunan dan beban drainase kota tampaknya menjadi tantangan yang belum tuntas.

Di sisi lain, beberapa kabupaten juga mencatatkan angka yang cukup mengejutkan:

  • Kutai Timur (122 kejadian): Menempati posisi kedua, menunjukkan kerentanan wilayah utara.
  • Kutai Barat (102 kejadian): Angka yang cukup tinggi untuk wilayah pedalaman.
  • Balikpapan (92) & Kukar (90): Duo wilayah tetangga ini memiliki tingkat kerentanan yang hampir serupa.

Mahakam Ulu menjadi wilayah yang paling “tenang” dengan 17 kejadian, namun tetap perlu waspada mengingat aksesibilitas wilayahnya yang menantang.

Dampak Nyata: Bukan Sekadar Angka di Kertas

Bencana-bencana tersebut meninggalkan luka fisik yang nyata pada infrastruktur kita. Kerugian materiil di tahun 2025 sangat masif, terutama pada sektor hunian. Sebanyak 40.180 unit rumah dilaporkan rusak—bayangkan berapa banyak keluarga yang kehilangan kenyamanan tempat tinggal mereka.

Fasilitas publik pun tak luput dari hantaman:

  • Pendidikan & Kesehatan: 59 fasilitas pendidikan dan 38 fasilitas kesehatan terdampak. Ini adalah rapor kritis karena mengganggu layanan dasar masyarakat.
  • Mobilitas: Jalanan sepanjang 23,46 km hancur dan 15 jembatan terputus, memperlambat urusan logistik dan ekonomi.
  • Pusat Ekonomi: 132 ruko/kios hangus atau rusak, memukul langsung kantong para pelaku UMKM.

Moving Forward: Saatnya Menjadi “Smart Citizen”

Data dari Pusdalops BPBD Kaltim ini seharusnya menjadi titik balik. Pembangunan IKN dan penyangga sekitarnya harus dibarengi dengan mitigasi bencana yang jauh lebih canggih. Kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan evakuasi, tapi harus mulai pada preventif (pencegahan).

Mulai dari hal kecil: tidak membuang sampah ke parit, memastikan instalasi listrik rumah aman untuk mencegah korsleting, hingga memahami jalur evakuasi di lingkungan masing-masing.

Tahun 2026 sudah di depan mata. Akankah kita membiarkan angka-angka ini kembali naik, atau kita mulai bergerak bersama untuk Kaltim yang lebih tangguh? (ray)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *