Ramadhan Pertama dan Momentum Besar Restorasi Akhlak
Fajar pertama Ramadhan kembali menyapa. Di balik ritual menahan lapar dan dahaga yang dimulai hari ini, terselip sebuah harapan kolektif yang jauh lebih substansial daripada sekadar perpindahan jam makan: yakni restorasi akhlak bangsa.
Ramadhan bukan sekadar siklus kalender tahunan. Bagi masyarakat yang kian hari kian bising oleh polusi etika dan degradasi sopan santun di ruang publik, bulan suci ini adalah “laboratorium” kemanusiaan. Jika selama sebelas bulan kita terjebak dalam rutinitas yang kompetitif dan seringkali abai terhadap nilai-nilai moral, maka hari pertama puasa adalah garis start untuk melakukan audit batin.
Mengapa Akhlak Menjadi Sentral?
Puasa adalah ibadah yang sangat privat. Tidak ada yang benar-benar tahu seseorang berpuasa atau tidak, kecuali dirinya dan Sang Pencipta. Di sinilah letak latihan kejujuran dan integritas yang paling murni.
- Pengendalian Diri: Esensi puasa adalah imsak (menahan). Bukan hanya menahan nafsu biologis, tetapi menahan lidah dari hoaks, menahan jempol dari ujaran kebencian, dan menahan hati dari rasa dengki.
- Empati Sosial: Rasa lapar yang dirasakan di hari pertama ini seharusnya mengaktifkan kembali saraf-saraf kepedulian kita terhadap mereka yang hidup dalam kekurangan sepanjang tahun.
- Transformasi Karakter: Perbaikan akhlak tidak terjadi secara otomatis. Ia memerlukan kesadaran bahwa kesalihan ritual (shalat dan puasa) harus berbanding lurus dengan kesalihan sosial (kejujuran, keramahan, dan kedermawanan).
Menuju Kesalihan yang Konkret
Kita sering melihat paradoks di mana gempita Ramadhan terasa sangat meriah secara seremonial, namun angka korupsi, konflik sosial, dan ketidaktertiban di jalan raya tetap tinggi. Ini menunjukkan adanya mata rantai yang terputus antara ibadah dan perilaku.
Ramadhan tahun ini harus menjadi momentum untuk menyambung kembali mata rantai tersebut. Perbaikan akhlak tidak dimulai dari panggung-panggung besar, melainkan dari meja makan rumah kita, dari kejujuran dalam berniaga, dan dari sikap saling menghormati di tengah perbedaan.
Hari pertama puasa ini adalah kesempatan emas untuk bertanya pada diri sendiri: Akan menjadi manusia seperti apa kita setelah tiga puluh hari ke depan? Kemenangan sejati di akhir Ramadhan nanti bukanlah sekadar baju baru atau hidangan mewah di hari raya. Kemenangan itu adalah lahirnya pribadi-pribadi baru yang memiliki kedalaman spiritual sekaligus keluhuran budi pekerti. Mari jadikan Ramadhan kali ini sebagai madrasah terbaik untuk memperbaiki akhlak, demi kehidupan bermasyarakat yang lebih beradab. ( Setia Wirawan.)