Prabowo “Warning” Keras Pejabat: Jangan Kasih Laporan Asal Bapak Senang!
Jakarta, nusaetamnews.com : Presiden Prabowo Subianto mengeluarkan peringatan keras bagi seluruh jajaran pejabat negara dan petinggi Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Dalam peringatan HUT ke-1 Danantara di Wisma Danantara, Jakarta, Rabu, Prabowo menegaskan tidak akan menoleransi laporan “akal-akalan” atau manipulasi data yang hanya bertujuan untuk menyenangkan atasan.
“Jangan main-main lagi dengan saya laporan palsu, laporan menyenangkan-menyenangkan, laporan supaya bisa akal-akalan. Saya kasih peringatan keras ini,” tegas Presiden Prabowo dengan nada bicara yang lugas.
Danantara Cetak ROA 300%, Bukti Kekuatan Konsolidasi
Di balik peringatan keras tersebut, Prabowo justru membawa kabar baik mengenai performa ekonomi. Ia mengumumkan bahwa Return on Asset (ROA) BUMN di bawah naungan Danantara melonjak drastis hingga lebih dari 300 persen sepanjang tahun 2025.
Menurutnya, angka ini menjadi validasi bahwa pembentukan Danantara sebagai entitas superholding adalah langkah tepat. “Ini membuktikan premis kita, bahwa manajemen yang baik tidak mungkin terwujud kalau tidak di bawah satu kendali, satu tangan, dan satu manajemen,” jelasnya.
Sentil Gurita Anak-Cucu BUMN: “Cicit Ndak Boleh Diaudit, Peraturan Mana Ini?”
Prabowo secara spesifik menyoroti fenomena “obesitas” di tubuh BUMN yang selama puluhan tahun melahirkan ratusan anak, cucu, hingga cicit perusahaan. Ia mengaku kaget menemukan fakta bahwa entitas seperti Pertamina mengelola hingga 200 anak dan cucu perusahaan.
Kekritisan Presiden semakin tajam saat membahas celah regulasi yang menghalangi audit negara terhadap anak perusahaan BUMN.
- Masalah: Regulasi lama menyebut induk BUMN boleh diaudit, tapi cucu perusahaan tidak.
- Sentilan Presiden: “Aneh lagi ada peraturan yang lebih aneh lagi… Peraturan dari mana ini?” sindirnya.
Visi Danantara: Standar Dunia & Stop Kebocoran
Presiden meyakini bahwa lewat konsolidasi di Danantara, kekayaan negara akan dikelola dengan standar terbaik dunia (world-class standards). Langkah ini dianggap sebagai strategi paling rasional untuk mencegah kebocoran kekayaan negara yang selama ini terjadi akibat penyimpangan di struktur perusahaan negara yang terlalu gemuk.
“Premis kita ternyata benar, konsolidasi satu manajemen dengan rasional dengan standar-standar terbaik dunia,” pungkasnya. (ant/one)