Plot Twist! Dari Penerima Zakat, Mekanik di Samarinda Kini Balik Modal Jadi Pemberi Zakat
SAMARINDA – Nasib orang siapa yang tahu? Sugiannor, seorang mekanik autodidak di Samarinda, sukses membuktikan bahwa jerat kemiskinan bisa diputus dengan strategi yang tepat. Dulunya tercatat sebagai penerima zakat (mustahik), kini Sugiannor resmi “naik kelas” menjadi pemberi zakat (muzaki) berkat program Z-Auto dari Baznas Kaltim.
Transformasi ekonomi ini bukan sulap bukan sihir, melainkan hasil dari intervensi modal produktif dan kerja keras selama dua tahun terakhir.
Senjata Baru: Mesin Impact dan Omzet Jutaan
Sebelum tahun 2024, bengkel Sugiannor yang berdiri sejak 2009 hanyalah usaha mikro yang sekadar “napas” buat makan sehari-hari. Dengan peralatan manual, pendapatan kotornya mandek di angka Rp300.000 per hari.
Perubahan besar terjadi saat Baznas Kaltim menyuntikkan modal usaha senilai Rp20 juta dalam bentuk:
- Tools Modern: Mesin kompresor besar, tabung infus injeksi, dan mesin impact wrench.
- Safety Gear: Sepatu boot safety untuk standar kerja profesional.
- Stok Suku Cadang: Penguatan inventaris bengkel.
Hasilnya? Efisiensi kerja meningkat drastis. Jika dulu hanya sanggup pegang beberapa motor, kini Sugiannor melayani 10 hingga 15 motor per hari. Omzetnya pun meroket menyentuh Rp1.000.000 per hari dan berhasil merekrut dua orang karyawan.
Gak Cuma Kasih Modal, Baznas “Kawal” Sampai Mandiri
Ketua Baznas Kaltim, KH Ahmad Nabhan, menegaskan bahwa dana umat tidak boleh menguap begitu saja. Program Z-Auto menerapkan sistem pendampingan ketat:
- Seleksi Ketat: Penerima harus masuk golongan asnaf (fakir/miskin) tapi punya skill dan komitmen tinggi.
- Monitoring On-Site: Tim Baznas rutin kunjungan lapangan untuk evaluasi bulanan.
- Spiritual Level-Up: Selain omzet, kedisiplinan ibadah (salat dan tilawah) menjadi parameter keberhasilan.
“Uang zakat ini titipan umat, harus produktif,” tegas Bagas Raga, PIC Program Z-Auto Baznas Kaltim.
Data Bicara: 30% Mustahik Kini Jadi Muzaki
Program Z-Auto terbukti bukan sekadar bantuan sosial “hit and run”. Berdasarkan data evaluasi terbaru:
- 30% Penerima Manfaat kini sudah menjadi pembayar zakat (Muzaki).
- 70% Sisanya aktif menjadi pemberi infak (Munfik).
- Kenaikan Omzet Komunal rata-rata mencapai 50-60% di seluruh titik binaan.
Kisah Sugiannor menjadi bukti nyata bahwa instrumen filantropi Islam, jika dikelola dengan manajemen presisi, mampu mengubah tangan di bawah menjadi tangan di atas. Saat ini, program memasuki fase exit bagi angkatan lama agar modal bisa digulirkan kepada warga yang lebih membutuhkan. (ant/one)