Subscribe

Piala Dunia 2026: Panggung Terakhir Messi-Ronaldo di Tengah Panasnya Politik Trump

2 minutes read

Nusaetanews.com : Bersiaplah, tahun ini sepak bola bakal mencapai level drama tertingginya. Kick-off pada 11 Juni 2026 nanti bukan cuma soal perebutan trofi emas, tapi juga tentang sejarah besar, kemunculan wonderkid baru, hingga bayang-bayang ketegangan politik yang menyelimuti tuan rumah.

The Last Dance: GOAT vs Rekor Dunia

Piala Dunia 2026 bakal jadi edisi keenam sekaligus pembuktian bagi dua legenda hidup, Lionel Messi (39) dan Cristiano Ronaldo (42).

  • Messi berambisi membawa Argentina back-to-back juara dunia—sesuatu yang terakhir kali dilakukan Brasil 64 tahun lalu. Ia juga butuh 4 gol lagi untuk memecahkan rekor gol sepanjang masa milik Miroslav Klose.
  • Ronaldo masih menyimpan “penasaran” terbesar: trofi Piala Dunia yang belum pernah ia sentuh. Pilihannya cuma dua: mengangkat trofi sebagai pemain tertua dalam sejarah, atau senasib dengan legenda seperti Cruyff yang pensiun tanpa gelar dunia.

Tapi ingat, ini bukan cuma soal mereka. Mata dunia juga bakal tertuju pada talenta “mengerikan” seperti Lamine Yamal dan mesin gol Erling Haaland.

Sepak Bola yang Terkepung Politik “Anti-Establishment”

Tahun ini, stadion bukan satu-satunya arena yang panas. Di luar lapangan, tensi politik Amerika Serikat di bawah kendali Donald Trump diprediksi bakal memberikan warna tersendiri.

Gaya kepemimpinan Trump yang kontroversial dan cenderung agresif berpotensi menciptakan gesekan dengan negara peserta. Sebut saja Iran yang sudah lolos, hingga Kanada (sesama tuan rumah) dan Denmark (jika lolos playoff). Isunya beragam, mulai dari perang tarif hingga nuklir. Yang bikin waswas, Trump dan pendukungnya sering menjadikan ajang olahraga sebagai sarana show of force di tengah masa kritis Pemilu Sela AS, November mendatang.

Isu Imigrasi: Fans Global Mulai Khawatir

Satu hal yang jadi “lampu kuning” bagi penonton mancanegara adalah kebijakan imigrasi super-keras ala Trump. Sebanyak 78 dari 104 pertandingan akan digelar di AS, termasuk laga krusial dari perempat final hingga final.

Kekhawatiran muncul setelah aksi petugas ICE (lembaga imigrasi AS) viral karena dianggap terlalu agresif, bahkan terhadap warga difabel sekalipun. Rumor pengerahan petugas imigrasi ke venue pertandingan bikin publik bertanya-tanya:

“Apakah AS bakal jadi tuan rumah yang ramah bagi fans luar negeri?”

Aktivis HAM sudah mulai bersuara, meminta transparansi agar kota-kota penyelenggara tidak jadi wilayah yang “menakutkan” bagi pendatang. Ini adalah tantangan besar bagi FIFA untuk memastikan pesan inklusivitas sepak bola tidak tenggelam oleh sentimen politik lokal. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *