Pasukan RI Masuk Gaza: Kemlu Pastikan Sudah ‘Satu Frekuensi’ dengan Palestina, Fokus Misi Kemanusiaan!
Jakarta, nusaetamnews.com : Indonesia bersiap mengirimkan personel militernya ke Jalur Gaza sebagai bagian dari International Stabilization Force (ISF). Merespons suara-suara kritis, Kementerian Luar Negeri (Kemlu) RI menegaskan bahwa langkah ini bukan “asal masuk”, melainkan hasil konsultasi intens dan persetujuan langsung dari pihak Palestina.
Juru Bicara Kemlu RI, Vahd Nabyl A. Mulachela, menjelaskan bahwa dialog terus dilakukan, termasuk pertemuan strategis dengan Wakil Tetap Palestina untuk PBB di New York.
“Partisipasi Indonesia di ISF dilakukan berdasarkan persetujuan dari pihak Palestina. Hal ini menjadi syarat mutlak keterlibatan kita,” tegas Nabyl dalam taklimat media di Jakarta, Kamis (19/2/2026).
Bukan Misi Tempur: Indonesia Punya Kendali Penuh
Menanggapi kekhawatiran kelompok Hamas terkait keberadaan pasukan asing, Kemlu memberikan garis tegas mengenai aturan main (Rules of Engagement) personel RI di lapangan. Nabyl memastikan Indonesia memegang kendali penuh atas pasukannya sendiri.
Poin penting misi Indonesia di Gaza:
- No Combat: Personel RI tidak akan dilibatkan dalam misi tempur atau operasi demiliterisasi.
- Fokus Kemanusiaan: Prioritas utama adalah rekonstruksi infrastruktur yang hancur, perlindungan warga sipil, dan layanan kesehatan.
- Bukan Agenda Asing: Indonesia memastikan kehadirannya untuk membantu pemulihan warga Gaza, bukan melanggengkan agenda pihak mana pun.
Mandat PBB di Bawah ‘Board of Peace’
Pembentukan ISF sendiri didasari oleh Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803 yang disahkan pada November 2025 lalu. Pasukan terpadu ini bergerak di bawah Board of Peace (BoP)—badan bentukan Donald Trump pasca-resolusi tersebut—dengan tugas utama menstabilkan keamanan dan mengamankan koridor kemanusiaan di Gaza.
Sekilas Misi ISF Indonesia 2026
| Kategori | Keterangan |
| Landasan Hukum | Resolusi DK PBB 2803 |
| Tugas Utama RI | Rekonstruksi & Pelayanan Kesehatan |
| Status Persetujuan | Clear (Disetujui Otoritas Palestina) |
| Komando | Kendali Penuh Pemerintah RI |
Jumlah Personel Masih Digodok
Mengenai detail teknis seperti berapa banyak tentara yang bakal terbang, kapan waktu keberangkatan, hingga berapa budget yang harus dikeluarkan negara, Kemlu menyebut hal tersebut masih dalam tahap pembahasan mendalam.
“Satu hal yang sangat penting adalah misi ini dilakukan dengan persetujuan Palestina, sehingga Indonesia hadir sebagai sahabat yang membantu proses pemulihan,” pungkas Nabyl. (ant/one)