Subscribe

NU 100 Tahun, Jejak Panjang Pendidikan hingga Pertanian untuk Indonesia dan Kaltim

2 minutes read

NUSANTARA – Satu abad bukan usia yang singkat. Nahdlatul Ulama (NU) menandai 100 tahun kiprahnya dengan refleksi, bukan sekadar perayaan. Di Gedung Utama Kemenko III IKN, Nusantara, Penajam Paser Utara, Sabtu (31/1/2026), warga nahdliyin memadati peringatan Harlah ke-100 NU yang dirangkai dengan Isra Mikraj.

Wakil Gubernur Kalimantan Timur (Kaltim) H Seno Aji menegaskan bahwa usia seabad NU adalah momentum untuk berkaca sekaligus menguatkan kontribusi nyata, khususnya bagi Kaltim.

“Anggota NU sangat banyak di Kaltim dengan profesi beragam. Momentum ini harus menjadi semangat untuk terus introspeksi dan memberi kontribusi lebih baik bagi daerah,” seru Seno Aji.

Kontribusi NU bukan cerita baru. Sejak awal berdirinya, organisasi ini telah menempatkan pendidikan sebagai pilar utama. Di Kaltim, keberadaan Persatuan Guru NU (Pergunu) menjadi salah satu wajah konkret peran tersebut. Anggotanya tersebar di berbagai kabupaten dan kota, mendidik generasi muda di sekolah-sekolah hingga pelosok.

Tak hanya di ruang kelas, NU juga bergerak di sektor riil. Melalui Lembaga Pengembangan Pertanian (LPP) NU, organisasi ini ikut mendorong penguatan sektor pangan.

Dalam konteks Kaltim yang kini diproyeksikan sebagai penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), peran di bidang pertanian menjadi semakin strategis. Perlu kolaborasi yang lebih solid dan terarah.

“Secara teknis, pemerintah daerah sangat diuntungkan. Keberadaan NU memberi dampak positif bagi pembangunan,” puji Seno.

Di panggung yang sama, Ketua Umum PP Pergunu KH Asep Saifuddin Chalim mengingatkan bahwa kekuatan NU selama satu abad terletak pada komitmen menjaga kedamaian. Ia mengajak umat menjauhi kezaliman dan pertikaian, serta menempatkan agama sebagai sumber nilai, bukan alat konflik.

Menurutnya, kemajuan negara tak hanya ditentukan oleh kebijakan dan pembangunan fisik, tetapi juga oleh doa dan bimbingan para ulama.

“Semoga para ulama terus membimbing generasi muda dan mewariskan ilmu yang bermanfaat,” pesannya.

Harlah ke-100 NU di Nusantara juga dihadiri Kepala OIKN Basuki Hadimuljono, Bupati PPU Mudyat Noor, anggota DPRD Kaltim, Ketua MUI Kaltim KH Muhammad Rasyid, Ketua PWNU Kaltim HM Fauzi A Bachtar, serta jajaran pengurus lainnya.

Di tengah geliat pembangunan IKN dan transformasi Kaltim, NU menunjukkan bahwa kekuatan sosial keagamaan tetap relevan. Dari mimbar pesantren hingga lahan pertanian, dari ruang kelas hingga ruang publik, jejak NU selama satu abad menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Indonesia dan Kaltim masa depan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *