Natal 2025 di Kaltim : Membumikan Damai, Memulihkan Ekologi
Desember 2025 di Kalimantan Timur bukan lagi sekadar bulan penuh lampu hias dan lagu pujian. Di balik syukur atas penyaluran Dana Bagi Hasil (DBH) yang mencapai puluhan triliun dan geliat pembangunan yang masif, ada rintik hujan yang membawa pesan serius. Natal tahun ini menjadi alarm refleksi: sejauh mana kita telah menjaga “rumah” yang Tuhan titipkan di Bumi Etam?
Natal dan Etika Lingkungan: Sebuah Panggilan
Bagi penganut Kristen, mandat Natal adalah membawa kabar baik. Namun, kabar baik sulit dirasakan jika alam sekitar kita sedang “sakit”. Refleksi Natal 2025 harus meluas menjadi etika ekologis. Di tengah ancaman cuaca ekstrem dan risiko banjir di kawasan urban seperti Balikpapan dan Samarinda, umat diajak untuk tidak hanya merayakan keselamatan jiwa, tapi juga keselamatan lingkungan. Gaya hidup hijau, pengurangan sampah plastik saat perayaan, dan penanaman pohon bisa jadi bentuk “ibadah” yang paling nyata saat ini.
Pemerintah: DBH Bukan Sekadar Angka, Tapi Amanah Ekologi
Bagi pemerintah, realisasi transfer pusat senilai Rp37,43 triliun (yang didominasi hasil alam) adalah tanggung jawab besar. Angka-angka ini adalah hasil dari perut bumi Kaltim. Maka, refleksi bagi pengambil kebijakan adalah memastikan dana tersebut kembali ke tanah dalam bentuk pemulihan lingkungan.
Mitigasi perubahan iklim bukan lagi sekadar narasi di atas kertas kebijakan, melainkan kebutuhan mendesak. Menggunakan dana desa untuk adaptasi perubahan iklim—sebagaimana yang diamanatkan—harus benar-benar dieksekusi secara transparan agar desa-desa kita tangguh menghadapi bencana ekologis.
Stakeholder: Sinergi Hijau di Tengah Pembangunan
Para pelaku industri dan pemangku kepentingan lainnya harus melihat Natal sebagai momentum komitmen ulang terhadap keberlanjutan. Pembangunan ekonomi yang kencang di Kaltim jangan sampai meninggalkan luka permanen pada hutan dan biodiversitas kita. Natal mengajarkan tentang restorasi—pemulihan hubungan manusia dengan sesama dan alamnya. Stakeholder diharapkan mampu berkolaborasi menciptakan ekosistem bisnis yang tidak hanya mencari profit, tapi juga menjaga kualitas udara dan air bagi generasi mendatang.
Menjadi Penjaga Taman yang Setia
Natal 2025 harus menjadi titik balik di mana spiritualitas bertemu dengan realitas lingkungan. Kita tidak ingin merayakan Natal di tengah kepungan banjir atau ancaman longsor akibat kelalaian kita menjaga hutan.
Damai Natal yang sejati adalah ketika manusia bisa hidup berdampingan secara harmonis dengan sesamanya sekaligus menjadi penjaga taman yang setia bagi bumi Kalimantan. Mari jadikan perayaan ini sebagai langkah awal untuk memulihkan ekologi kita, demi masa depan Kaltim yang lebih hijau dan berkelanjutan.
Salam Redaksi
Setia Wirawan