Subscribe

Misi Swasembada Pangan Kaltim 2026: Kejar Target Cetak Sawah 20.000 Hektare!

2 minutes read

SAMARINDA, nusaetamnews.com : Kalimantan Timur lagi punya misi besar: Mandiri pangan di tahun 2026. Untuk mewujudkannya, Pemprov Kaltim sekarang lagi “ngegas” program cetak sawah rakyat seluas 20.000 hektare.

Tapi, tantangannya ternyata nggak main-main. Wakil Gubernur Kaltim, Seno Aji, blak-blakan bilang kalau progresnya masih perlu akselerasi ekstra. Dari target 20.000 hektare, saat ini yang terealisasi baru sekitar 6.600 hektare.

The Math: Kenapa 20.000 Hektare Itu Penting?

Kalau seluruh lahan ini berhasil digarap dan bisa panen dua kali setahun, Kaltim diprediksi bisa produksi 350 ribu sampai 400 ribu ton gabah per tahun. Angka ini cukup banget buat bikin Benua Etam nggak perlu “impor” beras dari luar daerah lagi.

“Jujur saja, progres saat ini masih lambat, padahal target dari pusat sangat ketat,” ujar Seno Aji saat ngobrol bareng Kelompok Tani Kutai Kartanegara, Jumat.

Bye-Bye Cara Lama, Halo Drone!

Salah satu solusi yang ditawarkan Wagub adalah beralih ke Modern Farming. Beliau mencontohkan lahan di Bukit Biru yang sudah pakai teknologi keren:

  • Mekanisasi & Pemetaan Digital: Biar lebih presisi.
  • Drone: Digunakan untuk pemupukan yang lebih efisien.
  • Hasilnya? Lahan percontohan 10 hektare bisa menghasilkan 6,8 ton gabah!

Distribusi Lahan & “Drama” Verifikasi

Banyak petani mengeluh soal luas lahan yang menyusut dan fluktuasi air Sungai Mahakam. Makanya, Kepala DPTPH Kaltim, Fahmi Himawan, menegaskan kalau semua lahan akan dicek ulang pakai metode overlay peta biar nggak tabrakan sama kawasan hutan atau izin tambang/kebun.

Cek nih sebaran targetnya:

  • Kutai Barat: 11.500 Hektare
  • Kutai Kartanegara: 6.500 Hektare
  • Berau: 2.000 Hektare (Sudah tahap Survey Investigation Design!)

Deadline 10 Bulan

Seno Aji kasih instruksi tegas: Urusan pendataan petani (CPCL), verifikasi lapangan, sampai desain survei harus kelar dalam 10 bulan ke depan.

Intinya, cetak sawah ini bukan cuma soal proyek teknis, tapi soal Kedaulatan Pangan. Jangan sampai di masa depan kita bingung cari makan karena terlalu bergantung pada kiriman dari pulau lain. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *