Merajut Kembali Benang yang Terurai
KEMENANGAN Idul Fitri 1447 Hijriah baru saja kita rayakan. Namun, di balik kemeriahan baju baru dan kepulan aroma hidangan khas Lebaran, ada satu esensi yang jauh lebih substansial dan mendesak untuk kita maknai: Saling Memaafkan. Di tengah dunia yang semakin bising oleh ego dan polarisasi digital, memaafkan bukan lagi sekadar ritual jabat tangan, melainkan sebuah kebutuhan sosiologis untuk menjaga kewarasan bangsa.
Sejarah mencatat bahwa konflik sering kali bermula dari hal-hal kecil yang dibiarkan mengerak. Di era media sosial, friksi antarsaudara, rekan kerja, hingga antarwarga negara bisa tersulut hanya karena perbedaan sudut pandang di layar kaca. Idul Fitri hadir sebagai tombol reset global. Ia memaksa kita untuk berhenti sejenak, menanggalkan atribut gengsi, dan mengakui bahwa sebagai manusia, kita adalah tempatnya khilaf.
Memaafkan dalam konteks Idul Fitri tahun 2026 ini harus dimaknai sebagai upaya “Merajut Kembali Benang yang Terurai”. Kita tahu, setahun belakangan dinamika sosial dan ekonomi mungkin telah menguji kesabaran kita. Ada janji yang tak tertunai, ada kata yang melukai, dan ada kebijakan yang mungkin memicu selisih paham. Tanpa pintu maaf yang terbuka lebar, residu-residu negatif ini akan menjadi beban sejarah yang menghambat langkah kita menuju kemajuan.
Namun, perlu kita garis bawahi: memaafkan tidak sama dengan melupakan. Memaafkan adalah keputusan sadar untuk melepaskan belenggu kebencian agar kita bisa berjalan lebih ringan ke depan. Bagi seorang pemimpin, memaafkan berarti membuka ruang dialog bagi mereka yang berseberangan. Bagi warga, memaafkan berarti meruntuhkan sekat-sekat perbedaan demi kepentingan bersama.
Di Samarinda, Kalimantan Timur, dan seluruh penjuru Nusantara, semangat halal bihalal harus menjadi momentum rekonsiliasi nasional. Kita tidak ingin kemenangan Ramadan hanya menguap bersama habisnya toples kue Lebaran. Kita ingin spirit Idul Fitri—yakni kembalinya manusia ke fitrah yang suci—termanifestasi dalam sikap saling menghargai dan gotong royong di hari-hari setelahnya.
Tantangan pasca-Lebaran adalah bagaimana merawat “benang” yang sudah ditenun kembali ini agar tidak mudah putus oleh kepentingan sesaat. Jika saling memaafkan mampu kita jadikan budaya, bukan sekadar seremoni tahunan, maka Idul Fitri benar-benar telah memenangkan kita dari musuh terbesar: Egoisme Diri.
Mari kita jadikan hari-hari ke depan sebagai pembuktian bahwa maaf yang kita ucapkan bukan sekadar pemanis bibir, melainkan janji suci untuk membangun peradaban yang lebih bermartabat dan harmonis. (setia wirawan)