Subscribe

Menjemput Fajar Baru di Bumi Etam: Catatan Safari Ramadan dari Masjid Nurul Mu’minin

3 minutes read

GEMA SELAWAT BADAR lamat-lamat terdengar dari pengeras suara Masjid Nurul Mu’minin, kompleks Kantor Gubernur Kaltim, saat matahari mulai condong ke ufuk barat. Di bawah kubah masjid yang megah itu, ratusan ASN dan warga bersimpuh, menandai hari pertama rangkaian Safari Ramadan Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur tahun 2026.

Namun, Ramadan kali ini terasa berbeda. Di antara aroma takjil dan sejuknya hembusan AC masjid, ada sebuah narasi besar yang sedang ditenun. Safari ini bukan sekadar ajang buka puasa bersama, melainkan sebuah perjalanan “audit batin” dan fisik bagi para pemangku kebijakan di Bumi Etam.

Puasa Bukan Alasan “Kendor”

Membuka rangkaian safari di markasnya sendiri, Penjabat Gubernur Kaltim (atau Gubernur definitif, tergantung konteks waktu), yang akrab disapa Harum, memberikan pesan tajam yang menghentak kesadaran para abdi negara. Di mimbar Masjid Nurul Mu’minin, ia menegaskan bahwa lapar dan dahaga tidak boleh menjadi pembenaran untuk melambatnya mesin birokrasi.

“Puasa jangan menyebabkan kinerja kendor. Justru di bulan ini, semangat melayani harus berlipat ganda. Kita sedang berkejaran dengan waktu untuk menata masa depan Kaltim yang lebih mandiri,” tegasnya di hadapan jamaah.

Pesan ini bukan tanpa alasan. Di luar sana, jutaan warga Kaltim sedang menaruh harapan besar pada pundak pemerintah provinsi untuk segera menuntaskan dua isu krusial: kemerdekaan dari isolasi geografis dan kesiapan menghadapi era pasca-tambang.

Memerdekakan Wilayah dari “Lumpur Abadi”

Bagi warga di pelosok Mahakam Ulu atau wilayah pesisir Berau, Ramadan sering kali dijalani dengan keterbatasan akses. Aspirasi warga yang terekam dalam perjalanan safari ini sangat jelas: mereka ingin pemerintah benar-benar serius membuka isolasi.

“Kami tidak butuh janji manis di atas piring buka puasa. Kami butuh aspal yang menyambungkan desa kami ke kota,” ungkap warga yang kerap mengeluhkan jalan poros yang hancur saat hujan tiba.

Pemerintah Daerah dituntut untuk tidak hanya fokus pada gemerlap Ibu Kota Nusantara (IKN), tetapi juga memastikan urat nadi transportasi di “daerah penyangga” ini benar-benar hidup. Membuka isolasi berarti membuka akses kesehatan, pendidikan, dan menekan harga bahan pokok yang kerap melambung tinggi di pedalaman saat menjelang Idulfitri.

Menjemput Hari Tanpa “Emas Hitam”

Selain infrastruktur, kegelisahan kolektif warga Kaltim adalah ketergantungan akut pada batubara. Selama puluhan tahun, ekonomi Kaltim disokong oleh kerukan tanah. Namun, warga kini mulai sadar bahwa “emas hitam” adalah kekayaan yang fana.

Harapan yang mengemuka dalam setiap diskusi di sela safari adalah keinginan melihat Kaltim yang benar-benar menjemput masa depan hijau. Warga ingin melihat lahan eks-tambang berubah menjadi hamparan pertanian produktif atau pusat energi terbarukan, bukan sekadar lubang-lubang maut yang ditinggalkan begitu saja.

Transisi ekonomi ini bukan lagi sekadar wacana di atas kertas seminar. Warga menanti langkah nyata Pemda dalam mendorong hilirisasi industri dan memperkuat UMKM sektor pariwisata serta ekonomi kreatif. Mereka ingin Kaltim tetap tegak berdiri saat mesin-mesin pengeruk batubara kelak berhenti beroperasi.

Sajadah Tanggung Jawab

Safari Ramadan hari pertama di Masjid Nurul Mu’minin hanyalah titik awal. Perjalanan panjang mengelilingi 10 kabupaten/kota di Kaltim ini akan menjadi saksi bagaimana pemerintah menyerap denyut nadi keresahan rakyatnya.

Jika puasa adalah tentang menahan diri, maka bagi Pemerintah Provinsi Kaltim, Ramadan tahun ini adalah tentang menahan diri dari rasa puas. Perjalanan ini adalah pengingat bahwa di balik doa-doa yang dipanjatkan di masjid-masjid kampung nanti, ada harapan agar Kaltim segera “merdeka” dari lumpur isolasi dan mandiri di atas tanah yang hijau, tanpa harus terus-menerus merobek perut bumi. Sajadah telah digelar, dan perjalanan dimulai. Kaltim sedang menjemput fajarnya yang baru. (setia wirawan)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *