Menhan Sjafrie Pastikan TNI Siap Kirim 20 Ribu Pasukan Perdamaian, Tinggal Tunggu Green Light Presiden!
Morowali (nusaetamnews.com) Indonesia serius bergerak untuk perdamaian di Gaza! Menteri Pertahanan Sjafrie Sjamsoeddin menegaskan bahwa TNI sudah siap tempur mengirimkan Kontingen Pasukan Perdamaian ke Gaza, namun mereka kini menunggu mandat resmi dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan keputusan final dari Pemerintah Indonesia.
“TNI sudah mempersiapkan satuannya untuk tugas-tugas perdamaian di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB),” kata Sjafrie, Kamis, saat ditemui awak media di Bandara IMIP, Morowali, Sulawesi Tengah.
Siap, Tapi Masih Menunggu Keputusan Politik
Meskipun kesiapan militer sudah 100%, Sjafrie mengakui bahwa langkah selanjutnya adalah keputusan politik tertinggi.
“Kita tunggu keputusan politik dari pemerintah,” jelasnya, yang berarti Green Light terakhir ada di tangan Presiden Prabowo Subianto.
20.000 Pasukan Ready dengan Misi Full Kemanusiaan
TNI bukan main-main. Mereka sudah menyiapkan total 20.000 pasukan yang akan dikirim untuk misi perdamaian PBB, dikenal sebagai ISF (International Stabilization Force). Fokus utama pasukan ini adalah:
- Satuan Kesehatan (Medis): Mengurus korban dan kebutuhan kesehatan di Gaza.
- Zeni (Konstruksi): Membangun kembali infrastruktur yang hancur.
Tidak hanya personel, peralatan lengkap di bidang kesehatan dan pengerjaan konstruksi juga sudah disiapkan untuk mendukung operasional mereka di sana.
Resolusi PBB Sudah Approved
Keputusan ini menyusul Resolusi yang diadopsi oleh Dewan Keamanan PBB pada Senin (17/11). Resolusi yang disponsori Amerika Serikat (AS) ini berisi pembentukan ISF di Jalur Gaza dengan mandat awal selama dua tahun.
Tugas utama pasukan perdamaian ini sangat krusial, meliputi:
- Mengamankan perbatasan Gaza.
- Melindungi warga sipil.
- Menyalurkan bantuan kemanusiaan.
- Melatih kembali kepolisian Palestina.
- Mengawasi proses pelucutan senjata Hamas dan kelompok bersenjata lainnya.
Resolusi ini didukung oleh 13 negara anggota DK PBB, sementara Rusia dan China memilih abstain. (ant/one)