Mangrove Klempang Sari: Go Internasional lewat Pemandu Lokal
Paser, nusaetamnews.com – Kabupaten Paser, sebagai salah satu daerah penyangga Ibu Kota Nusantara (IKN), terus mematangkan kesiapan sektor pariwisatanya. Fokus tidak hanya pada infrastruktur, tetapi juga kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang bertugas sebagai garda terdepan: para pemandu wisata.
Peningkatan kompetensi ini menjadi krusial, terutama bagi destinasi unggulan seperti Desa Wisata Mangrove Klempang Sari di Kecamatan Kuaro.
Mangrove Klempang Sari bukan sekadar hamparan hutan bakau, tetapi juga rumah bagi berbagai satwa endemik seperti Bekantan. Kawasan ini telah ditetapkan sebagai salah satu fokus pengembangan ekowisata Paser. Namun, keindahan alam tersebut baru bisa benar-benar bernilai jika diceritakan oleh pemandu yang kompeten dan berstandar global.
Dari Lokalitas Menuju Standar Global
Hal inilah yang menjadi landasan kolaborasi antara Dinas Pemuda, Olahraga, dan Pariwisata Kabupaten Paser, Quality Pro School, dan LSP Angin Mammiri dalam program Pelatihan Kompetensi Pemanduan Ekowisata digelar dari tanggal 18 Novembersampai tanggal 23 November 2025.
Dr. Farid Said, M.Pd, CHE, CTE, seorang akademisi dan praktisi pariwisata berpengalaman dari Politeknik Pariwisata Makassar, didatangkan sebagai narasumber utama. Dr. Farid, yang pernah menjabat Wakil Direktur Poltekpar Lombok dan memiliki training di berbagai negara, membawa standar kompetensi internasional ke jantung ekowisata Paser.
Fokus pelatihan tidak hanya pada cara memandu, tetapi juga pada etika konservasi dan kemampuan storytelling yang kuat. Para peserta, yang sebagian besar adalah pemuda lokal, dibekali dengan ilmu untuk:
- Mengintegrasikan Ekowisata: Memahami filosofi pariwisata yang bertanggung jawab dan berkelanjutan.
- Keterampilan Teknis: Menguasai prosedur P3K, penanganan keadaan darurat, serta navigasi di kawasan konservasi.
- Storytelling Lokal: Mampu merangkai kisah kekayaan alam dan budaya lokal Paser, mengubah sekadar berjalan-jalan menjadi pengalaman edukatif yang mendalam.
Mengapa Klempang Sari Jadi Lokasi Uji Kompetensi?
Pemilihan DTW Mangrove Klempang Sari sebagai lokasi praktik bukan tanpa alasan. Kawasan ini menawarkan lanskap ekowisata bahari yang unik. Pemandu tidak hanya dituntut menguasai sejarah daerah, tetapi juga memahami ekosistem mangrove: fungsi lingkungan, jenis flora yang ada, hingga perilaku satwa.
“Pemandu di sini harus lebih dari sekadar penunjuk jalan. Mereka adalah juru bicara alam dan budaya Paser,” ujar salah satu perwakilan Redaktur Pelaksana yang mengamati proses pelatihan.
Dengan pengujian kompetensi yang dilakukan langsung di lapangan dan melibatkan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Angin Mammiri, output yang diharapkan adalah lahirnya pemandu yang tidak hanya mengerti etika lokal, tetapi juga memiliki sertifikat resmi yang diakui secara nasional—sebuah modal penting dalam menyambut arus wisatawan IKN di masa depan.
Inisiatif ini membuktikan komitmen Paser untuk memanfaatkan kekayaan alamnya, bukan hanya sebagai objek wisata, tetapi sebagai laboratorium konservasi yang dipimpin oleh talenta-talenta muda lokal yang kompeten. Kelak, Mangrove Klempang Sari diharapkan mampu ‘Go Internasional’ melalui profesionalisme pemandu wisatanya sendiri. (danes)