Subscribe

Lelah Scroll Terus? Fenomena Digital Detox: Healing Paling Low Budget ala Milenial

3 minutes read

Jakarta, nusaetamnews.com : Seberapa sering kamu merasa burnout setelah kelamaan menatap layar HP? Rasanya seperti hidup cuma pindah dari satu notifikasi ke notifikasi lain, padahal badan sudah teriak minta istirahat. Selamat, kamu tidak sendirian! Kini, semakin banyak anak muda, terutama milenial dan Gen Z, yang mulai keranjingan Digital Detox.

Bukan cuma tren sesaat, Digital Detox (detoks digital) adalah upaya sadar untuk membatasi, bahkan sepenuhnya cut off, interaksi dengan perangkat teknologi—HP, laptop, media sosial—demi kesehatan mental dan fisik. Ini adalah seni kembali ke masa kini.

Kenapa Harus Detox? Karena HP Bikin Capek Mental!

Jujur saja, gadget sudah jadi organ tambahan. Tapi, di balik kemudahannya, ada cost yang mahal: kecemasan dan fear of missing out (FOMO) yang tak berkesudahan.

Seorang profesional muda bernama Maya (27), yang bekerja di industri kreatif, mengaku sempat collapse secara mental karena merasa harus selalu online.

“Awalnya cuma iseng, off IG dan mute semua grup kantor di hari Sabtu. Ternyata, rasanya kayak beban 10 kilo langsung lepas dari pundak! Selama ini, aku nggak sadar kalau scroll medsos itu sebenarnya bikin aku makin stres, bukan rileks,” ujar Maya.

Para ahli menyebut fenomena ini sebagai ‘Attention Residue’, di mana pikiran kita terus memikirkan informasi yang baru saja kita konsumsi secara digital, membuat otak sulit fokus dan istirahat.

Tips & Trik Digital Detox Biar Nggak Gagal

Detox digital bukan berarti kamu harus buang HP ke laut, kok. Banyak milenial yang melakukannya secara bertahap dan low budget:

  • The Weekend Ban: Ini jurus paling populer. Tentukan satu atau dua hari (biasanya Sabtu-Minggu) di mana kamu menghapus sementara aplikasi media sosial atau mematikan notifikasi secara total. Gunakan HP hanya untuk telepon darurat.
  • No Phone Zone: Terapkan aturan ketat, misalnya: HP dilarang masuk kamar tidur atau dilarang di meja makan. Gunakan jam weker konvensional sebagai pengganti alarm HP.
  • The Golden Hour: Jangan sentuh HP selama satu jam pertama setelah bangun dan satu jam sebelum tidur. Gunakan waktu ini untuk meditasi, journaling, atau sekadar lihat pemandangan luar jendela.
  • Offline Activity: Ganti waktu scrolling dengan aktivitas yang benar-benar nyata, seperti ngopi tanpa foto-foto, baca buku fisik, atau ngobrol intens dengan teman tanpa sibuk cek HP.

Lebih dari Sekadar Tren: Menemukan Diri Lagi

Hasil dari Digital Detox ini ternyata nggak main-main. Maya bercerita, setelah rutin detox digital, kualitas tidurnya membaik drastis, kecemasannya berkurang, dan yang paling penting, dia jadi lebih produktif saat kembali bekerja.

“Detox ini bukan anti-teknologi, tapi anti-ketergantungan. Aku jadi tahu, ternyata dunia itu luas, dan nggak semua yang penting ada di layar HP. Rasanya kayak menemukan diri yang hilang karena sibuk mengejar notifikasi,” tutup Maya.

Jadi, kapan giliran kamu yang berani ambil jeda sejenak dari layar dan kembali menikmati real life? (ant/one)


Bagaimana, apakah tulisan feature ini sudah sesuai dengan yang Anda inginkan? Atau, Anda ingin saya mengembangkan topik lain, misalnya tentang tren kerja hybrid atau side hustle?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *