Lebaran Tanpa Sekat, Penyandang Disabilitas Silaturahmi dengan Gubernur
Samarinda – Suasana Lebaran di Kalimantan Timur tahun ini menghadirkan cerita berbeda. Di tengah gegap gempita Idulfitri 1447 Hijriah, kelompok yang selama ini kerap berada di pinggir perhatian justru menjadi pusat kehangatan. Mereka adalah para penyandang disabilitas.
Di Pendopo Odah Etam, Kompleks Kantor Gubernur Kaltim, kebahagiaan itu terasa nyata saat mereka hadir dalam open house dan bertemu langsung dengan Gubernur Kaltim Rudy Mas’ud. Bukan sekadar bersalaman, pertemuan ini menjadi ruang tanpa sekat, di mana keterbatasan tak lagi menjadi penghalang untuk merasakan kedekatan dengan pemimpin daerah.
Ekspresi haru dan bangga tampak dari wajah para tamu istimewa tersebut. Dengan bahasa isyarat dan senyum hangat, mereka menyampaikan rasa bahagia yang sulit disembunyikan. Bagi sebagian dari mereka, ini adalah pengalaman pertama bisa berdiri begitu dekat dengan orang nomor satu di Benua Etam.
“Kami ingin berbagi kebahagiaan dengan semua, termasuk saudara-saudara kita penyandang disabilitas. Semoga hari raya ini benar-benar membawa kebahagiaan bagi mereka,” ujar Gubernur.
Momen itu menjadi lebih dari sekadar tradisi silaturahmi. Ia menjelma menjadi simbol inklusivitas, bahwa pemerintah hadir untuk semua, tanpa terkecuali.
Mareza Lina, salah satu penyandang tuna rungu, tak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Dengan bahasa sederhana, ia mengungkapkan bahwa pertemuan ini menjadi kenangan yang tak terlupakan.
Hal serupa disampaikan Eko Sutrisman. Baginya, kesempatan bertemu langsung dengan gubernur adalah pengalaman pertama yang penuh makna.
Kehadiran mereka di pusat pemerintahan bukan hanya tentang merayakan Lebaran, tetapi juga tentang pengakuan, bahwa mereka adalah bagian penting dari masyarakat Kaltim.
Di balik keterbatasan yang dimiliki, para penyandang disabilitas pulang membawa lebih dari sekadar kenangan. Mereka membawa perasaan dihargai, diakui, dan diperhatikan.
Lebaran kali ini pun terasa berbeda. Lebih hangat, lebih inklusif, dan meninggalkan pesan kuat: bahwa kebahagiaan sejati hadir ketika semua bisa merasakannya, tanpa terkecuali.