Subscribe

Lawan Karhutla, Dishut Kaltim ‘Senjatai’ Warga dengan Bibit Buah hingga Madu Kelulut

2 minutes read

Samarinda, nusaetamnews.com :  Dinas Kehutanan (Dishut) Provinsi Kalimantan Timur punya cara out of the box untuk menekan angka Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla). Bukan cuma fokus pada pemadaman, Dishut Kaltim kini lebih gencar “menyuap” masyarakat sekitar hutan dengan program pemberdayaan ekonomi dan edukasi kreatif sejak dini.

Kepala KPHP Telake Dishut Kaltim, Shahar Al Haqq, menegaskan bahwa pola perhutanan sosial menjadi senjata utama. Warga kini diberi izin mengelola kawasan hutan untuk ditanami bibit buah unggul.

Menjaga Hutan Demi Isi Piring

Strategi ini bukan tanpa alasan. Shahar menyebut, ketika warga memiliki “kebun mini” di dalam hutan, mereka secara otomatis akan menjadi garda terdepan penjaga api.

“Lewat pola ini, warga bakal jaga dan rawat tanaman mereka mati-matian. Tanpa diminta pun, mereka akan pastikan hutan aman dari Karhutla karena di sana ada sumber penghidupan mereka,” ujar Shahar di Telake, Kamis (26/3).

Sentuhan Emosional: Dari Puisi hingga Mewarnai

Tak hanya menyasar orang dewasa, Dishut Kaltim juga melakukan “pendekatan jiwa” kepada generasi Z dan Alpha. Kampanye hutan lestari dikemas lewat kompetisi kreatif seperti:

  • Lomba Karya Tulis & Baca Puisi
  • Melukis & Mewarnai bertema hutan hijau.

Menurut Shahar, ekspresi anak-anak dalam lomba menggambar di Paser dan Penajam Paser Utara menunjukkan pemahaman yang kuat tentang pentingnya menjaga ekosistem. “Pendekatan tiap kelompok usia berbeda, tapi tujuannya satu: menanamkan mindset hutan lestari sejak dini,” tambahnya.

Cuan Berkelanjutan dari Madu dan Aren

Pemberdayaan juga menyentuh Masyarakat Hukum Adat (MHA). Dishut Kaltim memberikan pembinaan intensif pada pemanfaatan hasil hutan non-kayu untuk meningkatkan nilai jual produk lokal, di antaranya:

  • Budidaya Madu Kelulut (Madu hutan tanpa sengat).
  • Pengolahan Gula Aren & Gula Semut (Modernisasi produk tradisional).
  • Optimalisasi Rotan dan hasil hutan lainnya.

“Ini adalah bagian dari pembangunan ekonomi berkelanjutan. Kearifan lokal masyarakat adat sudah ada sejak lama, tugas kami adalah memberikan penguatan dan membuka akses pasar yang lebih luas,” tegas Shahar.

Dengan memperkuat ekonomi warga melalui hasil hutan non-kayu, Dishut Kaltim optimistis kelestarian hutan bukan lagi sekadar slogan, melainkan kebutuhan hidup bagi masyarakat sekitar. (ant/one)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *