Kutai Kartanegara Jadi “Lumbung Ikan” IKN, Produksi Nila Tembus 126 Ribu Ton!
Samarinda, nusaetamnews.com : Pemerintah Provinsi Kalimantan Timur (Kaltim) terus memacu produktivitas kampung budidaya ikan nila di Kabupaten Kutai Kartanegara (Kukar). Langkah ini diambil setelah Kukar mencatatkan angka produksi perikanan budidaya yang fantastis, yakni mencapai 126.139 ton per tahun.
Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kaltim, Irhan Humaidy, menegaskan bahwa Kukar kini memegang peranan krusial sebagai “pemain utama” di tingkat provinsi.
Dominasi 79 Persen Produksi Provinsi
“Produksi tahunan yang besar ini mengukuhkan Kutai Kartanegara sebagai kontributor utama dengan menyumbang 79 persen dari total produksi perikanan budidaya di Kaltim,” ujar Irhan di Samarinda, Minggu (1/3).
Saat ini, fokus pembinaan pemerintah berpusat di Kecamatan Loa Kulu. Wilayah yang telah ditetapkan sebagai kampung budidaya nila ini sukses menyumbang 10.229,26 ton. Rahasia di balik angka ini adalah optimalisasi lahan basah menggunakan media keramba yang dikelola secara masif oleh masyarakat.
Data Produksi Perikanan Kukar:
- Total Produksi: 126.139 ton/tahun.
- Kontribusi Keramba: 72.524 ton (57% dari total produksi daerah).
- Sentra Utama: Kecamatan Loa Kulu (Ikan Nila).
Amankan Stok Pangan Ibu Kota Nusantara (IKN)
Melimpahnya stok ikan nila ini diproyeksikan menjadi modal utama untuk menjamin ketahanan pangan di kawasan Ibu Kota Nusantara (IKN).
“Kami optimistis capaian ini menjadi jaminan ketersediaan protein hewani bagi penduduk di IKN dan wilayah penyangganya,” tambah Irhan.
Agar produk lokal mampu menembus pasar nasional, DKP Kaltim melakukan pendampingan intensif, mulai dari standarisasi unit usaha hingga sertifikasi Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB), seperti yang sudah diraih para pembudidaya di Desa Loa Kulu Kota.
Perkuat Kelembagaan dan Daya Saing
Tak hanya soal teknis, pemerintah juga memperkuat aspek kelembagaan kelompok tani, seperti kelompok Barokah Makmur Sejahtera dan Nila Berseri di Desa Jembayan.
Tujuannya jelas: agar para pembudidaya tidak hanya menang di kuantitas, tapi juga punya posisi tawar yang kuat dan harga yang stabil di pasaran. Skema pengelolaan public-private partnership juga didorong untuk memastikan rantai pasok dari hulu ke hilir tetap terjaga.
“Upaya ini diharapkan memberikan multiplier effect, yakni meningkatkan kesejahteraan pembudidaya lokal sekaligus mengamankan cadangan protein hewani bagi ibu kota baru,” pungkas Irhan. (ant/one)